Yang
paling dikenal sebagai tiga penyebab klasik kematian ibu di samping infeksi dan
preeclampsia adalah perdarahan. Perdarahan pascapersalinan (PPP) adalah
perdarahan yang massif yang berasal dari tempat implantasi plasenta, robekan
pada jalan lahir dan jaringan sekitarnya dan merupakan salah satu penyebab
kematian ibu di samping perdarahan karena kehamilan ektopik dan abortus. PPP
bila tidak mendapat penanganan yang semestinya akan meningkatkan morbiditas dan
mortalitas ibu serta proses penyembuhan kembali. Dengan berbagai kemajuan
pelayanan obstetric di berbagai tempat di Indonesia, maka telah terjadi
pergeseran kausal kematian ibu bersalin dengan perdarahan dan infeksi yang
semakin berkurang, tetapi penyebab eklampsia dan penyakit medic non-kehamilan
semakin menonjol.
Definisi PPP adalah perdarahan yang
melebihi 500 ml setelah bayi lahir. Pada praktisnya tidak perlu mengukur jumlah
perdarahan sampai sebanyak itu sebab menghentikan perdarahan lebih dini akan
memberikan prognosis lebih baik. Pada umumnya bila terdapat perdarahan yang
lebih dari normal, apalagi telah menyebabkan perubahan tanda vital (seperti
kesadaran menurun, pucat, limbung, berkeringat dingin, sesak napas, serta tensi
< 90 mmHg dan nadi > 100/menit), maka penanganan harus segera dilakukan.
Efek perdarahan terhadap ibu hamil
bergantung pada volume darah saat ibu hamil, seberapa tingkat hipervolemia yang
sudah dicapai dan kadar hemoglobin sebelumnya. Anemia dalam kehamilan yang
masih tinggi di Indonesia (46 %) serta fasilitas transfuse darah yang masih
terbatas menyebabkan PPP akan mengganggu penyembuhan pada masa nifas, proses
involusi, dan laktasi. PPP bukanlah suatu diagnosis akan tetapi suatu kejadian
yang harus dicari kausalnya. Misalnya PPP karena atonia uteri, PPP oleh karena
robekan jalan lahir, PPP oleh karena sisa plasenta, atau oleh karena gangguan
pembekuan darah. Sifat perdarahan pada PPP bisa banyak, bergumpal-gumpal sampai
menyebabkan syok atau terus menerus sedikit demi sedikit tanpa henti.
Sebagai patokan, setelah persalinan selesai maka keadaan disebut “aman”
bila kesadaran dan tanda vital ibu baik, kontraksi uterus baik, dan tidak ada
perdarahan aktif / merembes dari vagina.
Pada awalnya wanita hamil yang normotensi
akan menunjukkan kenaikan tekanan darah sebagai respons terhadap kehilangan
darah yang terjadi pada wanita hamil dengan hipertensi bisa ditemukan
normotensi setelah perdarahan. Pada wanita hamil dengan eklampsia akan sangat
peka terhadap PPP, karena sebelumnya telah terjadi deficit cairan intravascular
dan ada penumpukan cairan ekstravaskular, sehingga perdarahan yang sedikit saja
akan cepat mempengaruhi hemodinamika ibu dan perlu penanganan segera sebelum
terjadinya tanda-tanda syok.
PPP yang dapat menyebabkan kematian
ibu 45 % terjadi pada 24 jam pertama setelah bayi lahir, 68 – 73 % dalam satu
minggu setelah bayi lahir, dan 82 – 88 % dalam dua minggu setelah bayi lahir.
Kausalnya dibedakan atas:
·
Perdarahan
dari tempat implantasi plasenta.
Ø Hipotoni sampai atonia uteri.
ü Akibat anestasi
ü Distensi berlebihan (gemeli, anak
kembar, hidramnion)
ü Partus lama, partus kasep
ü Partus presipitatus/partus terlalu
cepat
ü Persalinan karena induksi oksitosin
ü Multiparitas
ü Korioamnionitis
ü Pernah atonia sebelumnya
Ø Sisa plasenta.
ü Kotiledon atau selaput ketuban
tersisa
ü Plasenta susenturiata
ü Plasenta akreta, inkreta, perkreta
·
Perdarahan
karena robekan.
Ø Episiotomy yang melebar.
Ø Robekan pada perineum, vagina, dan
serviks.
Ø Rupture uteri.
·
Gangguan
koagulasi.
Ø Jarang terjadi tetapi bisa
memperburuk keadaan di atas, misalnya pada kasus trombofilia, sindroma HELLP,
preeclampsia, solusio plasenta, kematian janin dalam kandungan, dan emboli air
ketuban.
Berdasarkan saat terjadinya PPP dapat
dibagi menjadi PPP primer, yang terjadi dalam 24 jam pertama dan biasanya
disebabkan oleh atonia uteri, berbagai robekan jalan lahir, dan sisa sebagian
plasenta. Dalam kasus yang jarang, bisa karena inversion uteri. PPP sekunder
yang terjadi setelah 24 jam persalinan, biasanya oleh karena sisa plasenta.
Jumlah perdarahan yang diperkirakan
terjadi sering hanya 50 % dari jumlah darah yang hilang. Perdarahan yang aktif
dan merembes terus dalam waktu lama saat melakukan prosedur tindakan juga bisa
menyebabkan PPP. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemeriksaan Hb dan hematokrit
untuk memperkirakan jumlah perdarahan yang terjadi saat persalinan dibandingkan
dengan keadaan prapersalinan.
1.
Atonia Uteri
Atonia uteri adalah keadaan lemahnya
tonus/kontraksi rahim yang menyebabkan uterus tidak mampu menutup perdarahan
terbuka dari tempat implantasi plasenta setelah bayi dan plasenta lahir.
Perdarahan oleh karena atonia uteri
dapat dicegah dengan:
·
Melakukan
secara rutin manajemen aktif kala III pada semua wanita yang bersalin karena
hal ini dapat menurunkan insidens perdarahan pascapersalinan akibat atonia
uteri.
·
Pemebrian
misoprostol per oral 2 – 3 tablet (400 – 600 µg) segera setelah bayi lahir.
Factor predisposisinya adalah sebagai
berikut.
1. Regangan rahim berlebihan karena
kehamilan gamely, polihidramnion, atau anak terlalu besar.
2. Kelelahan karena persalinan lama atau
persalinan kasep.
3. Kehamilan grande-multipara.
4. Ibu dengan keadaan umum yang jelek,
anemis, atau menderita penyakit menahun.
5. Mioma uteri yang mengganggu kontraksi
rahim.
6. Infeksi intrauterine
(korioamnionitis).
7. Ada riwayat pernah atonia uteri
sebelumnya.
a.
Diagnosis
Diagnosis
ditegakkan bila setelah bayi dan plasenta lahir ternyata perdarahan masih aktif
dan banyak, bergumpal dan pada palpasi didapatkan fundus uteri masih setinggi
pusat atau lebih dengan kontraksi yang lembek. Perlu diperhatikan bahwa pada
saat atonia uteri didiagnosis, maka pada saat itu juga masih ada darah sebanyak
500 – 1.000 cc yang sudah keluar dari pembuluh darah, tetapi masih terperangkap
dalam uterus dan harus diperhitungkan dalam kalkulasi pemberian darah
pengganti.
b.
Tindakan
Banyaknya
darah yang hilang akan mempengaruhi keadaan umum pasien. Pasien bisa masih
dalam keadaan sadar, sedikit anemis, atau sampai syok berat hipovolemik.
Tindakan pertama yang harus dilakukan bergantung pada keadaan kliniknya. Secara
lengkap dapat dilihat pada Buku Acuan
Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, JNPKKR-POGI Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2002 dan Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal,
Jakarta 2002.
Pada umumnya dilakukan
secara simultan (bila pasien syok) hal-hal sebagai berikut:
·
Sikap
Trendelenburg, memasang venosus line,
dan memberikan oksigen.
·
Sekaligus
merangsang kontraksi uterus dengan cara:
Ø Masase fundus uteri dan merangsang
putting susu.
Ø Pemebrian oksitosin dan turunan ergot
melalui suntikan secara I.M., I.V., atau S.C.
Ø Memberikan derivate prostaglandin F2α (carboprost
tromethamine) yang kadang memberikan efek samping berupa diare, hipertensi,
mual muntah, febris, dan takikardi.
Ø Pemberian misoprostol 800 – 1.000 µg per-rektal.
Ø Kompresi bimanual eksternal dan /
atau internal.
Ø Kompresi aorta abdominalis.
Ø Pemasangan “tampon kondom”, kondom
dalam kavum uteri disambung dengan kateter, difiksasi dengan karet gelang dan
diisi cairan infuse 200 ml yang akan mengurangi perdarahan dan menghindari
tindakan operatif.
Ø Catatan: tindakan memasang tampon kasa utero-vaginal tidak dianjurkan dan hanya
bersifat temporer sebelum tindakan bedah ke rumah sakit rujukan.
·
Bila
semua tindakan itu gagal, maka dipersiapkan untuk dilakukan tindakan operatif
laparotomi dengan pilihan bedah konservatif (mempertahankan uterus) atau
melakukan histerektomi. Alternatifnya berupa:
Ø Ligasi arteria uterine atau arteria
ovarika.
Ø Operasi ransel B Lynch.
Ø Histerektomi supravaginal.
Ø Histerektomi total abdominal.
2.
Robekan Jalan Lahir
Pada umunya robekan jalan lahir
terjadi pada persalinan dengan trauma. Pertolongan persalinan yang semakin
manipulatif dan traumatic akan memudahkan robekan jalan lahir dan karena itu
dihindarkan memimpin persalinan pada saat pembukaan serviks belum lengkap.
Robekan jalan lahir biasanya akibat episiotomy, robekan spontan perineum,
trauma forceps atau vakum ekstraksi, atau karena versi ekstraksi.
Robekan yang terjadi bisa ringan
(lecet, laserasi), luka episiotomy, robekan perineum spontan derajat ringan
sampau rupture perinea totalis (sfingter ani terputus), robekan pada dinding
vagina, forniks uteri, serviks, daerah sekitar klitoris dan uretra dan bahkan,
yang terberat, rupture uteri. Oleh karena itu, pada setiap persalinan hendaklah
dilakukan inspeksi yang teliti untuk mencari kemungkinan adanya robekan ini.
Perdarahan yang terjadi saat kontraksi uterus baik, biasanya, karena ada
robekan atau sisa plasenta. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan cara melakukan
inspeksi pada vulva, vagina, dan serviks dengan memakai speculum untuk mencari
sumber perdarahan dengan cirri warna darah yang merah segar dan pulsatif sesuai
denyut nadi. Perdarahan karena rupture uteri dapat diduga pada persalinan macet
atau kasep, atau uterus dengan lokus minoris resistensia dan adanya atonia
uteri dan tanda cairan bebas intrabdominal. Semua sumber perdarahan yang
terbuka harus diklem, diikat dan luka ditutup dengan jahitan cat-gut lapis demi lapis sampai
perdarahan berhenti.
Teknik penjahitan memerlukan sisten,
anestesi local, penerangan lampu yang cukup serta speculum dan memperhatikan
kedalaman luka. Bila penderita kesakitan dan tidak kooperatif, perlu mengundang
sejawat anestesi untuk ketenangan dan keamanan saat melakukan hemostasis.
3.
Retensio Plasenta
Bila plasenta tetap tertinggal dalam
uterus setengah jam setelah anak lahir disebut sebagai retensio plasenta.
Plasenta yang sukar dilepaskan dengan pertolongan aktif kala tiga bisa
disebabkan oleh adhesi yang kuat antara plasenta dan uterus. Disebut sebagai
plasenta akreta bila implantasi menembus desidua basalis dan Nitabuch layer, disebut sebagai plasenta
inkreta bila plasenta sampai menembus miometrium dan disebut plasenta perkreta
bila vili korialis sampai menembus perimetrium.
Factor predisposisi terjadinya
plasenta akreta adalah plasenta plasenta previa, bekas seksio sesarea, pernah
kuret berulang, dan multiparitas. Bila sebagian kecil dari plasenta masih
tertinggal dalam uterus disebut rest
placenta dan dapat menimbulkan PPP primer atau (lebih sering) sekunder.
Proses kala III didahului dengan tahap pelepasan/separasi plasenta akan
ditandai oleh perdarahan pervaginam (cara pelepasan Duncan) atau plasenta sudah
sebagian lepas tetapi tidak keluar pervaginam (cara pelepasan Schultze), sampai
akhirnya tahap ekspulsi, plasenta lahir. Pada retensio plasenta, sepanjang
plasenta belum terlepas, maka tidak akan menimbulkan perdarahan. Sebagian
plasenta yang sudah lepas dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak
(perdarahan kala III) dan harus diantisipasi dengan segera melakukan placenta manual, meskipun kala uri belum
lewat setengah jam.
Sisa plasenta bisa diduga bila kala
uri berlangsung tidak lancar, atau setelah melakukan plasenta manual atau
menemukan adanya kotiledon yang tidak lengkap pada saat melakukan pemeriksaan
plasenta dan masih ada perdarahan dari
ostium uteri eksternum pada saat kontraksi rahim sudah baik dan robekan jalan
lahir sudah terjahit. Untuk itu, harus dilakukan eksplorasi ke dalam rahim
dengan cara manual/digital atau kuret dengan pemberian uterotonika. Anemia yang
ditimbulkan setelah perdarahan dapat diberi transfuse darah sesuai dengan
keperluannya.
4.
Inversi Uterus
Kegawatdaruratan pada kala III yang
dapat menimbulkan perdarahan adalah terjadinya inverse uterus. Inverse uterus adalah
keadaan di mana lapisan dalam uterus (endometrium) turun dan keluar lewat
ostium uteri eksternum, yang dapat bersifat inkomplit sampai komplit.
Factor-faktor yang memungkinkan hal itu terjadi adalah
adanya atonia uteri, serviks yang masih terbuka lebar, dan adanya kekuatan yang
menarik fundus ke bawah (misalnya karena plasenta akreta, inkreta dan perkreta,
yang tali pusatnya ditarik keras dari bawah) atau ada tekanan pada fundus uteri
dari atas (maneuver Crede) atau tekanan intraabdominal yang keras dan tiba-tiba
(misalnya batuk keras atau bersin).
Melakukan traksi umbilicus pada pertolongan aktif kala III dengan uterus
yang masih atonia memungkinkan terjadinya inversi uteri.
Inversio
uteri ditandai dengan tanda-tanda:
·
Syok
karena kesakitan.
·
Perdarahan
banyak bergumpal.
·
Di
vulva tampak endometrium terbalik atau tanpa plasenta yang masih melekat.
·
Bila
bari terjadi, maka prognosis cukup baik akan terjadi bila kejadiannya cukup
lama, maka jepitan serviks yang mengecil akan membuat uterus mengalami iskemia,
nekrosis, dan infeksi.
a.
Tindakan
Secara garis besar tindakan yang dilakukan sebagai berikut.
·
Memanggil
bantuan anestesi dan memasang infuse untuk cairan/darah pengganti dan pemberian
obat.
·
Beberapa
senter memberikan tokolitik/MgSO4 untuk melemaskan uterus yang
terbalik sebelum dilakukan reposisi manual yaitu mendorong endometrium ke atas
masuk ke dalam vagina dan terus melewati serviks sampai tangan masuk ke dalam
uterus pada posisi normalnya. Hal ini dapat dilakukan sewaktu plasenta sudah
terlepas atau tidak.
·
Di
dalam uterus plasenta dilepaskan secara manual dan bila berhasil dikeluarkan
dari rahim dan sambil memberikan uterotonika lewat infuse atau I.M. tangan
tetap dipertahankan agar konfigurasi uterus kembali normal dan tangan operator
baru dilepaskan.
·
Pemberian
antibiotika dan transfuse darah sesuai dengan keperluannya.
·
Intervensi
bedah dilakukan bila karena jepitan serviks yang keras menyebabkan maneuver di
atas tidak dikerjakan, maka dilakukan laparotomi untuk reposisi dan kalau
terpaksa dilakukan histerektomi bila uterus sudah mengalami infeksi dan
nekrosis.
5.
Perdarahan karena Gangguan Pembekuan
Darah
Kausal PPP karena gangguan pembekuan
darah baru dicurigai bila penyebab yang lain dapat disingkirkan apalagi
disertai ada riwayat pernah mengalami hal yang sama pada persalinan sebelumnya.
Akan ada tendensi mudah terjadi perdarahan setiap dilakukan penjahitan dan
perdarahan akan merembes atau timbul hematoma pada bekas jahitan, suntikan,
perdarahan dari gusi, rongga hidung dan lain-lain.
Pada pemeriksaan penunjang ditemukan
hasil pemeriksaan faal hemostasis yang abnormal. Waktu perdarahan dan waktu
pembekuan memanjang, trombositopenia, terjadi hipofibrinogenemia, dan
terdeteksi adanya FDP (fibrin degradation
product) serta perpanjangan tes protombin dan PTT (partial thromboplastin time).
Predisposisi untuk terjadinya hal ini
adalah solusio plasenta, kematian janin dalam kandungan, eklampsia, emboli
cairan ketuban, dan sepsis. Terapi yang dilakukan adalah dengan tranfusi darah
dan produknya seperti plasma beku segar, trombosit, fibrinogen dan heparinisasi
atau pemberian EACA (epsilon amnio
caproic acid).
a.
Pencegahan
Klasifikasi
kehamilan risiko rendah dan risiko tinggi akan memudahkan penyelenggara
pelayanan kesehatan untuk menata strategi pelayanan ibu hamil saat perawatan
antenatal dan melahirkan dengan mengatur petugas kesehatan mana yang sesuai dan
jenjang rumah sakit rujukan. Akan tetapi, pada saat proses persalinan, semua
kehamilan mempunyai risiko untuk terjadinya patologi persalinan, salah satunya
adalah perdarahan pascapersalinan. Antisipasi terhadap hal tersebut dapat
dilakukan sebagai berikut.
·
Persiapan
sebelum hamil untuk memperbaiki keadaan umum dan mengatasi setiap penyakit
kronis, anemia, dan lain-lain sehingga pada saat kehamilan dan persalinan
pasien tersebut ada dalam keadaan optimal.
· Mengenal
factor predisposisi PPP seperti multiparitas, anak besar, hamil kembar,
hidramnion, bekas seksio, ada riwayat PPP sebelumnya dan kehamilan risiko
tinggi lainnya yang risikonya akan muncul saat persalinan.
·
Persalinan
harus selesai dalam waktu 24 jam dan pencegahan partus lama.
·
Kehamilan
risiko tinggi agar melahirkan di fasilitas rumah sakit rujukan.
·
Kehamilan
risiko rendah agar melahirkan di tenaga kesehatan terlatih dan menghindari
persalinan dukun.
·
Menguasai
langkah-langkah pertolongan pertama mengahadapi PPP dan mengadakan rujukan
sebagaimana mestinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar