A. KEBUTUHAN
MOBILISASI DAN BODY MEKANIK
1. Kebutuhan
Mobilisasi
Kemampuan
bergerak bebas, melangkah dengan baik, dan berirama, dengan maksud dan tujuan
tertentu merupakan hal yang penting dalam melakukan kegiatan hidup atau suatu
usaha dari manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya melalui bergerak.
Kemampuan seseorang bergerak dalam upaya memenuhi kebutuhan sehari-hari disebut
dengan Mobilisasi.
Pembatasan pergerakan oleh karena suatu kondisi dan keadaan disebut
dengan Imobilisasi. Pergerakan seseorang yang dibantu dengan alat
disebut Ambulasi.
a. Pengertian
Mobilisasi
Mobilisasi adalah
suatu kondisi dimana tubuh dapat melakukan keegiatan dengan bebas (Kosier,
1989).
b. Tujuan Mobilisasi
Tujuan dari
mobilisasi antara lain:
1)
Memenuhi kebutuhan dasar manusia,
2)
Mencegah terjadinya trauma,
3)
Mempertahankan tingkat kesehatan,
4)
Mempertahankan interaksi sosial dan peran sehari-hari, dan
5)
Mencegah hilangnya kemampuan fungsi tubuh.
c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Mobilisasi
1) Gaya Hidup
Gaya hidup seseorang
sangat tergantung dari tingkat pendidikannya. Makin tinggi tingkat pendidikan
seseorang akan di ikuti oleh perilaku yang dapat meningkatkan kesehatannya.
Demikian halnya dengan pengetahuan kesehatan tetang mobilitas, seseorang akan
senantiasa melakukan mobilisasi dengan cara yang sehat misalnya; seorang ABRI
akan berjalan dengan gaya berbeda dengan seorang pramugari atau seorang
pemabuk.
2) Proses Penyakit dan Injuri
Adanya penyakit
tertentu yang diderita seseorang akan mempengaruhi mobilitasnya misalnya;
seorang yang patah tulang akan kesulitan untuk mobilisasi secara bebas.
Demikian pula orang yang baru menjalani operasi, karena adanya nyeri mereka
cenderung untuk bergerak lebih lamban. Ada kalanya klien harus istirahat di tempat
tidur karena mederita penyakit tertentu misalnya; CVA yang berakibat
kelumpuhan, typoid dan penyakit kardiovaskuler.
3) Kebudayaan
Kebudayaan dapat
mempengaruhi pola dan sikap dalam melakukan aktifitas misalnya; seorang anak
desa yang biasa jalan kaki setiap hari akan berbeda mobilitasnya dengan anak
kota yang biasa pakai mobil dalam segala keperluannya. Wanita keraton akan
berbeda mobilitasnya dibandingkan dengan seorang wanita madura dan sebagainya.
4) Tingkat Energi
Setiap orang
mobilisasi jelas memerlukan tenaga atau energi, orang yang sedang sakit akan
berbeda mobilitasnya di bandingkan dengan orang sehat apalagi dengan seorang
pelari.
5) Usia dan Status Perkembangan
Seorang anak akan
berbeda tingkat kemampuan mobilitasnya dibandingkan dengan
seorang remaja. Anak yang selalu sakit dalam masa pertumbuhannya akan berbeda
pula tingkat kelincahannya dibandingkan dengan anak yang tidak sering sakit.
d.
Tipe Persendian dan Pergerakan
Sendi
Dalam sistim
muskuloskeletal dikenal 2 maca persendian yaitu sendi yang dapat digerakkan
(diartroses) dan sendi yang tidak dapat digerakkan (siartrosis).
e. Toleransi Aktifitas
Penilaian tolerasi aktifitas sangat penting
terutama pada klien dengan gangguan kardiovaskuler, seperti Angina Pektoris, Infark,
Miocard atau pada klien dengan immobiliasi yang lama akibat kelumpuhan. Hal
tersebut biasanya dikaji pada waktu sebelum melakukan mobilisai, saat
mobilisasi dan setelah mobilisasi.
Tanda-tanda yang dapat di kaji pada intoleransi aktifitas antara lain (Gordon,
1976):
1)
Denyut nadi frekuensinya
mengalami peningkatan dan irama tidak teratur,
2)
Tekanan darah biasanya
terjadi penurunan tekanan sistol/hipotensi orthostatic,
3)
Pernafasan terjadi
peningkatan frekuensi, pernafasan cepat dan dangkal,
4)
Warna kulit dan suhu tubuh
terjadi penurunan,
5)
Kecepatan dan posisi tubuh
akan mengalami kecepatan aktifitas dan ketidak stabilan posisi tubuh, dan
6)
Status emosi labil.
f.
Masalah
Fisik
Masalah fisik yang dapat terjadi akibat immobilitasi
dapat dikaji / diamati pada berbagai sistim antara lain:
1) Masalah Musculoskeletal
Menurunnya kekuatan dan kemampuan otot, atropi,
kontraktur, penurunan mineral, tulang dan kerusakan kulit.
2)
Masalah
Urinaria
Terjadi statis urine pada pelvis ginjal, pengapuran
infeksi saluran kemih dan inkontinentia urine.
3)
Masalah
Gastrointestinal
Terjadinya anoreksia / penurunan nafsu makan, diarrhoe
dan konstipasi.
4)
Masalah
Respirasi
Penurunan ekspansi paru, tertumpuknya sekret dalam
saluran nafas, ketidak seimbangan asam basa (CO2 dan O2).
5)
Masalah
Kardiofaskuler
Terjadinya hipotensi orthostatic, dan pembentukan
trombus.
g.
Upaya Mencegah Terjadinya Masalah akibat Kurangnya
Mobilisasi
Upaya mencegah terjadinya masalah
akibat kurangnya mobilisasi antara lain:
1) Perbaikan
status gizi,
2) Memperbaiki
kemampuan mobilisasi,
3) Melaksanakan
latihan pasif dan aktif,
4) Mempertahankan
posisi tubuh dengan benar sesuai dengan body aligmen (struktur tubuh), dan
5) Melakukan
perubahan posisi tubuh secara periodik (mobilisasi untuk menghindari terjadinya
dekubitus / pressure area akibat tekanan yang menetap pada bagian tubuh.
h.
Macam-Macam Posisi Klien di Tempat Tidur
1) Posisi
fowler (setengah duduk)
2) Posisi
litotomi
3) Posisi
dorsal recumbent
4) Posisi
supinasi (terlentang)
5) Posisi
pronasi (tengkurap)
6) Posisi
lateral (miring)
7) Posisi
sim
8) Posisi
trendelenbeg (kepala lebih rendah dari kaki).
i.
Manfaat Mobilisasi
1) Meningkatkan harga diri dan body image,
2) Memperbaiki sistem tubuh dan aktifitas yang teratur,
3) Meningkatkan
derajat kesehatan,
4) Mencegah
ketidakmampuan, dan
5) Memperlambat
serangan penyakit degenerative.
MOBILISASI DENGAN MEMBERIKAN POSISI MIRING
1.
Tujuan
a. Mempertahankan
body aligment.
b. Mengurangi
komplikasi akibat immobilisasi.
c. Meningkatkan
rasa nyaman.
d. Mengurangi
kemungkinan terjadinya cedera pada perawat maupun klien.
e. Mengurangi
kemungkinan tekanan yang menetap pada tubuh akibat posisi yang menetap.
2.
Indikasi
a. Penderita
yang mengalami kelumpuhan baik hemiplegi maupun paraplegi.
b. Penderita
yang mengalami kelemahan dan pasca operasi.
c. Penderita
yang mengalami pengobatan (immobilisasi).
d. Penderita
yang mengalami penurunan kesadaran.
3.
Persiapan
a. Berikan penjelasan kepada klien maksud dan tujuan
dilakukan tindakan mobilisasi ke posisi lateral.
b. Cuci tangan sebelum melakukan tindakan untuk membatasi
penyebaran kuman mikroorganisme.
c. Pindahkan segala rintangan sehingga perawat leluasa
bergerak.
d. Siapkan peralatan yang diperlukan.
e. Yakinkan bahwa
klien cukup hangat dan privasy terlindungi.
4.
Hal-Hal yang Harus Diperhatikan
a. Perawat
harus mengetahui teknik mobilisasi yang benar.
b. Bila
klien terlalu berat pastikan mencari pertolongan.
c. Tanyakan
kepada dokter tentang indikasi dan kebiasaan dilakukannya mobilisasi.
5.
Persiapan Alat
a. Satu
bantal penopang lengan,
b. Satu
bantal penopang tungkai, dan
c. Bantal
penopang tubuh bagian belakang.
6.
Cara Kerja
a. Angkat / singkirkan rail pembatas tempat tidur pada
sisi di mana perawat akan melakukan mobilisasi.
b. Pastikan posisi pasien pada bagian tengah tempat
tidur, posisi supinasi lebih mudah bila di lakukan mobilisasi lateral.
c. Perawat mengambil posisi sebagai berikut:
1) Perawat mengambil posisi sedekat mungkin menghadap
klien di samping tempat tidur, lurus pada bagian abdomen klien sesuai arah
posisi lateral (misalnya; mau memiringkan ke kanan, maka perawat ada di samping
kanan klien).
2) Kepala tegak, dagu di tarik ke belakang untuk
mempertahankan punggung pada posisi tegak.
3) Posisi pinggang tegak untuk melindungi sendi dan
ligamen.
4) Lebarkan jarak kedua kaki untuk menjaga kestabilan
saat menarik tubuh klien.
5) Lutut dan pinggul tertekuk / fleksi.
d. Kemudian letakkan tangan kanan lurus di samping tubuh
klien untuk mencegah klien terguling saat di tarik ke posisi lateral (sebagai
penyangga).
e. Kemudian letakkan tangan kiri klien menyilang pada
dadanya dan tungkai kiri menyilang diatas tungkai kanan dengan tujuan agar memberikan
kekuatan saat didorong.
f.
Kemudian kencangkan otot
gluteus dan abdomen serta kaki fleksi bersiap untuk melakukan tarikan terhadap
tubuh klien, yakinkan menggunakan otot terpanjang dan terkuat pada tungkai
dengan tujuan mencegah trauma dan menjaga kestabilan.
g. Letakkan tangan kanan perawat pada pangkal paha klien
dan tangan kiri diletakkan pada bahu klien.
h. Kemudian tarik tubuh klien ke arah perawat dengan
cara:
1) Kuatkan otot tulang belakang dan geser berat badan
perawat ke bagian pantat dan kaki.
2) Tambahkan fleksi kaki dan pelfis perawat lebih
direndahkan lagi untuk menjaga keseimbangan dan ketidakstabilan.
3) Yakinkan posisi klien tetap nyaman dan tetap dapat
bernafas lega.
i.
Kemudian atur posisi klien
dengan memberikan ganjaran bantal pada bagian yang penting sebagai berikut:
1) Tubuh klien berada di samping dan kedua lengan berada
di bagian depan tubuh dengan posisi fleksi, berat badan klien tertumpu pada
bagian skakula dan illeum. Berikan bantal pada bagian kepala agar tidak terjadi
abduksi dan adduksi pada sendi leher.
2) Kemudian berikan bantal sebagai ganjalan antara kedua
lengan dan dada untuk mencegah keletihan otot dada dan terjadinya lateral
fleksi serta untuk mencegah / membatasi fungsi internal rotasi dan abduksi pada
bahu dan lengan atas.
j.
Berikan ganjalan bantal
pada bagian belakang tubuh klien bila di perlukan untuk memberikan posisi yang
tepat.
k. Rapikan pakaian dan linen klien serta bereskan alat
yang tidak digunakan.
l.
Dokumentasikan tindakan
yang telah di kerjakan.
2.
Kebutuhan Body Mekanik
a. Body
mekanik penting untuk koordinasi dan keamanan menggunakan tubuh dalam
menghasilkan pergerakan dan memelihara keseimbangan selama beraktifitas.
b. Pergerakan
yang tepat meningkatkan fungsi muskuloskeletal tubuh, mengurangi energi yang
digunakan untuk pergerakan dan memelihara keseimbangan sehingga dapat
mengurangi kelelahan (fatique) dan menurunkan resiko terjadinya injury.
c. Tujuan
utama dari body mekanik adalah untuk memfasilitasi keamanan dan efisiensi
penggunaan sesuai dari otot-otot.
d. Body
mekanik terdiri dari 3 elemen dasar yaitu: Body Aliegment, Body Balance, dan
Body Movement.
B.
KEBUTUHAN EXERCISE (SENAM HAMIL)
Olah raga sangat penting bagi ibu hamil, untuk
tetap mendapatkan tubuh yang sehat dan bugar. Namun olah raga yang dilakukan
juga harus yang sesuai dengan perubahan fisik. Senam yang pas dilakukan saat
kehamilan adalah senam hamil.
Senam hamil biasanya dimulai saat kehamilan
memasuki trisemester ketiga, yaitu sekitar usia 28-30 minggu kehamilan. Selain
untuk menjaga kebugaran, senam hamil juga diperlukan untuk meningkatkan
kesiapan fisik dan mental calon ibu selama proses persalinan.
1.
Pengertian Senam Hamil
Senam hamil adalah suatu gerak atau olah tubuh yang dilaksanakan oleh ibu hamil sehingga
ibu tersebut menjadi siap baik fisik maupun mental untuk menghadapi kehamilan
dan persalinannya dengan aman dan alami (Hamilton P. (1995)).
2.
Tujuan Senam Hamil
a.
Tujuan Umum Senam Hamil
1) Melalui latihan senam hamil yang teratur dapat dijaga kondisi otot-otot dan
persediaan yang berperan dalam mekanisme persalinan.
2) Mempertinggi kesehatan fisik dan psikis serta kepercayaan diri
sendiri dalam menghadapi persalinan.
3) Membimbing wanita menuju suatu persalinan yang fisiologis.
b. Tujuan Khusus Senam Hamil
1) Memperkuat dan mempertahankan elastisitas otot-otot dinding perut, otot-otot dasar panggul, ligamen, dan jaringan serta fasia yang berperan dalam
mekanisme persalinan.
2) Melonggarkan persendian-persendian yang berhubungan dengan proses
persalinan.
3) Membentuk sikap tubuh yang prima, sehingga dapat
membantu mengatasi keluhan-keluhan, letak janin, dan mengurangi sesak nafas.
4) Memperoleh cara kontraksi dan relaksasi yang sempurna.
5) Menguasai teknik-teknik pernafasan dalam persalinan.
6) Dapat mengatur diri dalam ketenangan.
3. Syarat Melakukan Senam Hamil
a.
Telah dilakukan pemeriksaan
kesehatan dan kehamilan oleh dokter atau bidan.
b. Latihan dilakukan setelah kehamilan mencapai 22 minggu.
c. Latihan dilakukan secara teratur dan disiplin, sebaiknya latihan dilakukan di rumah sakit atau klinik bersalin dibawah pimpinan
instruktur senam hamil. (Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH.1998)
4. Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Melakukan Senam Hamil
a.
Petugas kesehatan sebaiknya mengadakan pengawasan selama melatih.
b.
Latihan fisik atau olahraga dapat dianjurkan, dimulai mulai kehamilan
7 bulan.
c.
Makan yang cukup agar tenaga selalu ada. Tidak ada kontra indikasi
melakukan senam hamil (Hamilton P. (1995)).
5. Tujuan Senam Hamil
Berikut beberapa tujuan senam hamil:
a.
Menguasai teknik pernapasan.
Latihan pernapasan sangat bermanfaat untuk mendapatkan oksigen,
sedangkan teknik pernapasan dilatih agar ibu siap menghadapi persalinan.
b.
Memperkuat elastisitas otot.
Memperkuat dan mempertahankan elastisitas otot-otot dinding perut,
sehingga dapat mencegah atau mengatasi keluhan nyeri di bokong, di perut bagian
bawah dan keluhan wasir.
c.
Mengurangi keluhan.
Melatih sikap tubuh selama hamil sehingga mengurangi keluhan yang
timbul akibat perubahan bentuk tubuh.
d.
Melatih relaksasi.
Proses relaksasi akan sempurna dengan melakukan latihan kontraksi dan
relaksasi yang diperlukan untuk mengatasi ketegangan atau rasa sakit saat
proses persalinan.
e.
Menghindari kesulitan.
Senam ini membantu persalinan sehingga ibu dapat melahirkan tanpa
kesulitan, serta menjaga ibu dan bayi sehat setelah melahirkan.
6. Beberapa Petunjuk dalam Melakukan Senam Hamil
a. Latihan Otot Kaki
1)
Duduklah dengan posisi kedua lutut diluruskan, tubuh bersandar pada
kedua lengan yang diletakkan di belakang pantat.
2)
Tegakkan kedua telapak kaki dengan lutut menekan kasur. Kemudian
tundukkan kedua telapak kaki bersama jari-jarinya. Ulangi beberapa kali.
3)
Hadapkan kedua telapak kaki satu sama lain dengan lutut tetap menghadap
ke atas, kembalikan ke posisi semula. Ulangi terus sebanyak beberapa kali.
4)
Kedua telapak kaki digerakkan turun ke arah bawah, lalu gerakan membuka
ke arah samping, tegakkan, kembali, dan seterusnya.
5)
Kedua telapak kaki buka dari atas ke samping turunkan, hadapkan,
kembali ke posisi semula, dan seterusnya.
Fungsi: Memperlancar sirkulasi darah di kaki dan mencegah pembengkakan pada
pergelangan kaki.
b.
Latihan Pernapasan
1)
Pernapasan Perut
·
Tidurlah terlentang dengan
satu bantal, kedua lutut dibengkokkan dan dibuka kurang lebih 20 cm.
·
Letakkan kedua telapak tangan
di atas perut di sekitar pusat sebagai perangsang.
·
Tarik napas dari hidung
dengan mulut tertutup, perut mengembang mendorong kedua tangan ke atas.
Perhatikan bahwa gerakan pernafasan dilakukan dengan perut (jadi dada tidak
ikut kembang kempis).
Fungsi: Melemaskan dinding perut agar mudah diperiksa oleh dokter/bidan.
2)
Pernapasan Iga
·
Tidur terlentang (seperti
pada pernafasan perut), letakkan kedua
tangan dalam posisi mengepal di iga sebagai perangsang.
·
Bernapaslah seperti pada
pernapasan perut, dengan pengecualian tangan menekan iga ke dalam dan iga
mengembang mendorong kedua tangan ke arah samping luar.
Fungsi: Mendapatkan oksigen sebanyak mungkin.
3)
Pernapasan Dada
·
Tidur terlentang (seperti
pada pernapasan perut), letakkan kedua tangan di dada bagian atas.
·
Keluarkan napas dari mulut
(tiup) dengan tangan menekan dada ke arah dalam.
·
Tarik napas dari mulut dengan
mulut terbuka, dada mengembang mendorong ke dua tangan ke atas.
Fungsi: Mengurangi rasa sakit saat bersalin.
4)
Pernapasan Panting (Pendek-Pendek dan Cepat)
Pernapasan ini menyerupai pernapasan dada, hanya saja irama pernapasan
lebih cepat dengan gerakan napas dihentikan separuhnya (bernapas tidak terlalu
dalam, pendek-pendek saja).
Fungsi: Istirahat atau menghilangkan lelah sesudah
mengejan. Juga dilakukan saat ibu sudah merasa ingin mengejan sementara
pembukaan belum lengkap, supaya jalan lahir tidak bengkak atau sobek.
Semua gerakan latihan
pernapasan di atas sebaiknya dilakukan enam kali sehari, di pagi hari sesudah
bangun tidur dan malam hari sebelum tidur.
c.
Latihan Otot Panggul
1) Tidur terlentang, kedua lutut dibengkokkan.
2) Letakkan kedua tangan di samping badan. Tundukkan kepala dan kerutkan
pantat ke dalam hingga terangkat dari kasur.
3) Kempeskan perut hingga punggung menekan kasur. Rasakan tonjolan tulang
panggul bergerak ke belakang.
4) Lemaskan kembali dan rasakan tonjolan tulang bergerak kembali ke depan.
Ulangi gerakan ini 15-30 kali sehari.
Fungsi: Mengembalikan posisi panggul yang berat ke depan, mengurangi dan mencegah
pegal-pegal, sakit pinggang dan punggung serta nyeri di lipat paha.
d.
Latihan Otot Betis
1) Berdiri sambil berpegangan pada benda yang berat dan mantap.
2) Posisikan ibu jari dan jari-jari lain menghadap ke atas.
3) Regangkan kaki sedikit dengan badan lurus dan pandangan lurus ke depan.
4) Tundukkan kepala seraya berjongkok perlahan sampai ke bawah tanpa
mengangkat tumit dari lantai.
5) Setelah jongkok, lemaskan bahu. Kempeskan perut, kemudian perlahan
kembalilah berdiri tegak, lepaskan kerutan. Lakukan enam kali dalam sehari.
Fungsi: Mencegah kejang di betis.
e.
Latihan Otot Pantat
1) Tidur terlentang tanpa bantal, kedua lutut dibengkokkan dan agak
diregangkan.
2) Dekatkan tumit ke pantat dengan kedua tangan di samping badan.
3) Kerutkan pantat ke dalam sehingga lepas dari kasur, angkat panggul ke atas
sejauh mungkin.
4) Turunkan perlahan (pantat masih berkerut), lepaskan kerutan, dsb. Ulangi
enam kali sehari.
Fungsi: Mencegah timbulnya wasir saat mengejan.
f.
Latihan Anti Sunsang
1) Ambil posisi merangkak, kedua lengan sejajar bahu, kedua lutut sejajar panggul
dan agak diregangkan.
2) Kepala di antara kedua tangan, tolehkan ke kiri atau ke kanan.
3) Letakkan siku di atas kasur, geser siku sejauh mungkin ke kiri dan ke kanan
hingga dada menyentuh kasur. Lakukan sehari 2 kali selama 15-20 menit/kali.
Fungsi: Mempertahankan dan memperbaiki posisi janin agar bagian kepala tetap di
bawah.
Gambar Beberapa Gerakan Senam Hamil
C. KEBUTUHAN ISTIRAHAT (TIDUR)
Istirahat dan tidur
yang sesuai adalah sama pentingnya bagi kesehatan yang baik, dengan nutrisi
yang baik dan olah raga yang cukup. Tiap individu membutuhkan jumlah yang
berbeda untuk istirahat dan tidur. Kesehatan fisik dan emosi tergantung pada
kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia. Tanpa jumlah istirahat dan
tidur yang cukup, kemampuan untuk berkonsentrasi membuat keputusan dan
berpartisipasi dalam aktivitas harian akan menurun dan meningkatkan
iritabilitas (Potter, dkk, 2005).
Tidur merupakan salah satu cara untuk melepaskan kelelahan jasmani dan
kelelahan mental. Dengan tidur semua keluhan hilang atau berkurang dan akan
kembali mendapatkan tenaga serta semangat untuk menyelesaikan persoalan yang
dihadapi. Tidur yang cukup dapat memainkan peranan dalam membantu tubuh kita
untuk pulih dari penyakit atau luka. Penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur
mengakibatkan kehilangan kekuatan, kerusakan pada sistem kekebalan dan
meningkatkan tekanan darah (Nancy W, 2006).
Tidur merupakan suatu keadaan tidak sadar yang dialami oleh seseorang, yang
dapat dibandingkan kembali dengan indra atau rangsangan yang cukup (Robert
Priharjo, 1993).
Memperoleh kualitas tidur yang terbaik adalah penting untuk peningkatan
kesehatan yang baik dan pemulihan individu yang sakit. Perawat memperhatikan
klien yang seringkali mengalami gangguan tidur yang ada sebelumnya dan klien
yang mengalami masalah tidur karena penyakit atau hospitalisasi. Kadang-kadang
mencari pelayanan kesehatan karena mereka mempunyai masalah tidur yang mungkin
telah hilang untuk disadari beberapa tahun. Klien yang sakit seringkali
membutuhkan lebih banyak tidur dan istirahat daripada klien yang sehat sifat
alamiah dari penyakit mencegah klien untuk mendapatkan istirahat dan tidur yang
cukup lingkungan institusi Rumah sakit atau fasilitas peralatan jangka panjang
aktivitas petugas pelayanan kesehatan dapat menyebabkan sulit tidur (Potter,
dkk 2005).
Secara umum, sebagian besar orang dewasa yang sehat rata-rata memerlukan
tujuh sampai sembilan jam tidur setiap malam, walaupun kebutuhan tidur setiap orang
berbeda. Kebutuhan akan tidur tidak berkurang karena usia, walaupun kemampuan
untuk mempertahankannya mungkin menurun (Nancy W, 2006).
Semua makhluk hidup mempunyai irama kehidupan yang sesuai dengan beredarnya
waktu dalam siklus 24 jam. Irama yang seiring dengan
rotasi bola dunia disebut sebagai irama sirkadian. Pusat control irama
sirkadian terletak pada bagian ventral anterior hypothalamus. Bagian susunan
saraf pusat yang mengadakan kegiatan sinkronisasi terletak pada substansia
ventrikulo retikularis medulo oblogata yang disebut sebagai pusat tidur. Bagian
susunan saraf pusat yang menghilangkan sinkronisasi/ desinkronisasi terdapat
pada bagian rostral medulo oblogata disebut sebagai pusat penggugah atau aurosal
state (Iskandar J, 2002).
Tidur juga penting bagi fungsi emosional dan mental. Kurang tidur dapat
mempengaruhi konsentrasi dan merusak kemampuan untuk melakukan kegiatan yang
melibatkan memori, belajar, pertimbangan logis, dan penghitungan matematis.
Sebuah penelitian yang baru-baru ini dilaporkan dalam New York Times
mengesankan bahwa kurang tidur yang kronis bisa semakin membuat proses penuaan
terasa menyulitkan. Bagi Odha, ganggauan tidur dapat mengakibatkan kemerosotan
mutu hidup. Misalnya, gangguan tidur dapat menyebabkan kelelahan pada siang
hari dan mempengaruhi status fungsional dan mutu hidup (Nancy W, 2006).
Hampir semua orang pernah mengalami gangguan tidur selama masa
kehidupannya. Diperkirakan tiap tahun 20%-40% orang dewasa mengalami kesukaran
tidur dan 17% diantaranya mengalami masalah serius. Prevalensi gangguan tidur
setiap tahun cenderung meningkat, hal ini juga sesuai dengan peningkatan usia
dan berbagai penyebabnya. Kaplan dan Sadock melaporkan kurang lebih 40-50% dari
populasi usia lanjut menderita gangguan tidur. Gangguan kronik (10-15%)
disebabkan oleh gangguan psikiatri, ketergantungan obat dan alkohol (Iskandar
J, 2002).
Menurut data International of Sleep Disorder, prevalensi penyebab-penyebab
gangguan tidur adalah sebagai berikut: Penyakit asma (61-74%), gangguan pusat pernafasan
(40-50%), kram kaki malam hari (16%), psychophysiological (15%), sindroma kaki
gelisah (5-15%), ketergantungan alkohol (10%), sindroma terlambat tidur
(5-10%), depresi (65%). Demensia (5%), gangguan perubahan jadwal kerja (2-5%),
gangguan obstruksi sesak saluran nafas (1-2%), penyakit ulkus peptikus
(<1%), narcolepsy (mendadak tidur) (0,03%-0,16%) (Iskandar J, 2002).
1.
Istirahat / Tidur
Wanita hamil harus
mengurangi semua kegiatan yang melelahkan, tapi tidak boleh digunakan sebagai
alasan untuk menghindari pekerjaan yang tidak disukainya. Wanita hamil juga
harus menghindari posisi duduk, berdiri dalam waktu yang sangat lama. Ibu hamil
harus mempertimbangkan pola istirahat dan tidur yang mendukung kesehatan
sendiri, maupun kesehatan bayinya. Kebiasaan tidur larut malam dan
kegiatan-kegiatan malam hari harus dipertimbangkan dan kalau mungkin dikurangi
hingga seminimal mungkin. Tidur malam + sekitar 8 jam/ istirahat/ tidur siang ±
1 jam. Jadwal istirahat dan tidur perlu diperhatikan dengan baik, karena
istirahat dan tidur yang teratur dapat meningkatkan kesehatan jasmani, dan
rohani untuk kepentingan perkembangan dan pertumbuhan janin.
2.
Posisi Tidur Ibu Hamil
Posisi aman
untuk ibu hamil sekitar 16 minggu sebaiknya ibu tidur dengan posisi miring ke
sisi kiri karena posisi ini memberi keuntungan untuk janin untuk mendapatkan
aliran darah dan nutrisi yang maksimal ke plasenta karena adanya vena cava
inferior di bagian belakang sebelah kanan spina yang mengembalikan darah dari
tubuh bagian bawah ke jantung. Juga dapat membantu ginjal untuk membuang sisa
produk dan cairan dari tubuh ibu sehingga mengurangi pembengkakan (edema) di
tangan, kaki dan pergelangan kaki. Tips
untuk tidur dengan posisi yang lebih nyaman letakkan bantal diantara dengkul
dan satu di punggung atau memilih bantal tidur untuk ibu hamil.
Hal utama yang
menyebabkan kesulitan tidur ibu hamil, hal ini terjadi karena peningkatan
ukuran janin berubah, yang membuat ibu hamil sulit menentukan posisi tidur yang
enak. Buat ibu yang terbiasa tidur terlentang atau tengkurap sebelum hamil,
kehadiran janin tentu akan menyulitkan. Selain persoalan kenyamanan, ada cukup
banyak pula penyebab lainnya. Beberapa diantaranya, ada yang bersumber dari
factor fisik, dan psikologis.
Factor fisik,
misalnya:
a.
Sering berkemih pada ibu hamil, ginjal bekerja lebih berat dari
biasanya karena organ harus menyaring volume darah yang lebih banyak 30-50%
dari sebelum hamil, proses penyaringan inilah yang menghasilkan lebih banyak
urine. Selain itu, karena janin dan plasenta membesar
maka tekanan kandung kemih juga meningkat keseringan berkemih juga akan
bertambah.
b.
Peningkatan detak jantung,
selama hamil kerja jantung juga meningkat, jantung akan memompa lebih banyak
darah selain mengirim suplay ke rahim, darah juga akan didistribusikan ke
seluruh tubuh.
c.
Pernafasan lebih pendek
karena rahim membesar, maka kondisi ini menghasilkan tekanan pada rongga
diafragma.
d.
Kram kaki dan nyeri punggung.
D. KEBUTUHAN IMUNISASI
1. Pengertian Imunisasi
Imunisasi
berasal dari kata imun, yang berarti kebal atau resisten. Jadi Imunisasi adalah
suatu tindakan untuk memberikan kekebalan dengan cara memasukkan vaksin ke
dalam tubuh manusia. Sedangkan kebal adalah suatu keadaan dimana tubuh
mempunyai daya kemampuan mengadakan pencegahan penyakit dalam rangka menghadapi
serangan kuman tertentu. Kebal atau resisten terhadap suatu penyakit belum tentu
kebal terhadap penyakit lain (Depkes RI, 1994).
Dalam ilmu
kedokteran, imunitas adalah suatu peristiwa mekanisme pertahanan tubuh terhadap
invasi benda asing hingga terjadi interaksi antara tubuh dengan benda asing
tersebut. Adapun tujuan imunisasi adalah merangsang sistim imunologi tubuh
untuk membentuk antibody spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan
Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) (Musa, 1985).
Departemen Kesehatan RI (2004), menyebutkan imunisasi adalah suatu usaha yang
dilakukan dalam pemberian vaksin pada tubuh seseorang sehingga dapat
menimbulkan kekebalan terhadap penyakit tertentu.
2. Program Imunisasi
Di
Indonesia, program imunisasi telah dimulai sejak abad ke 19 untuk membasmi
penyakit cacar di Pulau Jawa. Kasus cacar terakhir di
Indonesia ditemukan pada tahun 1972 dan pada tahun 1974 Indonesia secara resmi
dinyatakan Negara bebas cacar. Tahun 1977 sampai dengan tahun 1980 mulai
diperkenalkan imunisasi BCG, DPT dan TT secara berturut-turut untuk memberikan
kekebalan terhadap penyakit-penyakit TBC anak, difteri, pertusis dan tetanus
neonatorum. Tahun 1981 dan 1982 berturut-turut mulai diperkenalkan antigen
polio dan campak yang dimulai di 55 buah kecamatan dan dikenal sebagai
kecamatan Pengembangan Program Imunisasi (PPI) (Depkes RI 2000).
Pada tahun 1984, cakupan imunisasi lengkap secara nasional baru mencapai
4%. Dengan strategi akselerasi, cakupan imunisasi dapat ditingkatkan menjadi
73% pada akhir tahun 1989. Strategi ini terutama
ditujukan untuk memperkuat infrastruktur dan kemampuan manajemen program.
Dengan bantuan donor internasional (antara lain WHO, UNICEF, USAID) program
berupaya mendistribusikan seluruh kebutuhan vaksin dan peralatan rantai
dinginnya serta melatih tenaga vaksinator dan pengelola rantai dingin. Pada
akhir tahun 1989, sebanyak 96% dari semua kecamatan di tanah air memberikan
pelayanan imunisasi dasar secara teratur (Abednego, 1997).
Dengan
status program demikian, pemerintah bertekad untuk mencapai Universal Child
Immunization (UCI) yaitu komitmen internasional dalam rangka Child Survival
pada akhir tahun 1990. Dengan penerapan strategi mobilisasi social dan
pengembangan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS), UCI ditingkat nasional dapat
dicapai pada akhir tahun 1990. Akhirnya lebih dari 80% bayi di Indonesia
mendapat imunisasi lengkap sebelum ulang tahunnya yang pertama (Depkes RI,
2000).
3. Pentingnya Imunisasi dan Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi
Imunisasi
merupakan salah satu cara yang efektif dan efisien dalam mencegah penyakit dan
merupakan bagian kedokteran preventif yang mendapatkan prioritas. Sampai saat
ini ada tujuh penyakit infeksi pada anak yang dapat menyebabkan kematian dan
cacat, walaupun sebagian anak dapat bertahan dan menjadi kebal. Ketujuh
penyakit tersebut dimasukkan pada program imunisasi yaitu penyakit
tuberkulosis, difteri, pertusis, tetanus, polio, campak dan hepatitis-B.
Kehamilan bukan saat
untuk memakai program imunisasi terhadap berbagai penyakit yang dapat dicegah.
Hal ini karena kemungkinan adanya akibat yang membahayakan janin. Imunisasi
harus diberikan pada wanita hamil hanya imunisasi TT untuk mencegah kemungkinan
tetanus neonatorum. Imunisasi TT harus diberikan sebanyak 2 kali, dengan jarak
waktu TT1 dan TT2 minimal 1bulan, dan ibu hamil harus sudah diimunisasi lengkap
pada umur kehamilan 8 bulan. Vaksinasi dengan toksoid
dianjurkan untuk dapat menurunkan angka kematian bayi Karena infeksi tetanus. Vaksinasi toksoid
tetanus dilakukan dua kali selama hamil.
|
Imunisasi
|
Interval
|
Durasi Perlindungan
|
|
TT1
TT2
TT3
TT4
TT5
|
Selama kunjungan antenatal pertama
4 minggu setelah TT1
6 bulan setelah
TT2
1 tahun setelah
TT3
1 tahun setelah TT4
|
-
3 tahun
5 tahun
10 tahun
25 tahun
(seumur hidup)
|
E. KEBUTUHAN TRAVELING
Wanita hamil harus
berhati-hati melakukan perjalanan yang cenderung lama dan melelahkan, karena
dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan mengakibatkan gangguan sirkulasi serta
Oedema tungkai karena
kaki tergantung jika duduk terlalu lama. Sabuk pengaman yang dikenakan di
kendaraan jangan sampai menekan perut yang menonjol. Jika mungkin perjalanan
yang jauh sebaiknya dilakukan dengan pesawat udara. Ketinggian tidak
mempengaruhi kehamilan, bila kehamilan telah 35 minggu ada perusahaan
penerbangan yang menolak membawa wanita hamil ada juga yang menerima dengan
catatan keterangan dokter yang menyatakan cukup sehat untuk bepergian.
Berpergian dapat menimbulkan masalah lain, seperti konstipasi / diare karena
asupan makanan dan minuman cenderung berbeda seperti biasanya karena akibat
perjalanan yang melelahkan.
Traveling selama kehamilan:
1.
Trimester I merupakan waktu yang sangat sensitive karena rawan terjadi
keguguran dan kehamilan di luar kandungan.
2.
Trimester II (14-28 minggu), merupakan waktu yang ideal untuk bepergian
karena rasa mual, kelelahan sudah berkurang dan resiko terjadinya kelahiran
premature masih cukup lama dapat terjadi namun tetap berhati-hati.
3.
Trimester III (29-40 minggu) resiko yang paling difikirkan dari
bepergian adalah terjadinya kelahiran premature dan jika ingin tetap bepergian
sebaiknya konsultasi dengan dokter kandungan.
Kendaraan yang dapat digunakan untuk traveling
seperti mobil, kereta api, pesawat terbang. Bepergian dengan pesawat terbang
saat hamil itu aman. Wanita dengan kehamilan tanpa komplikasi apapun dapat naik
dengan pesawat terbang, namun hal itu akan meningkatkan resiko pembekuan
pembuluh darah vena.
Kebanyakan ibu hamil,
mengadakan perjalanan di trimester kedua bukan saja aman dan nyaman tetapi juga
merupakan kesempatan terbaik untuk pergi bersama pasangan. Tentu saja
memerlukan izin dokter, jika mempunyai tekanan darah tinggi, diabetes atau
masalah medis dan kebidanan lainnya mungkin tidak akan diberi lampu hijau.
Bahkan pada kehamilan beresiko rendah, perjalanan jarak jauh bukanlah ide yang
baik pada trimester pertama ketika tubuh masih melakukan penyesuaian fisik dan
emosional awal terhadap kehamilan. Begitu pula perjalanan jauh tidak dianjurkan
pada trimester terakhir, untuk alasan yang jelas, jika mengalami persalinan dini,
maka akan berada jauh dari dokter.
Sekali dokter telah
mengizinkan, maka yang perlu dilakukan hanyalah membuat sedikit rencana dan
beberapa tindakan pengamanan untuk menjamin perjalanan yang aman dan
menyenangkan.
a. Memilih Tujuan yang Sesuai
Perjalanan ke tempat yang panas dan lembab mungkin tidak menyamankan karena
metabolisme sudah meningkat dan membuat tubuh lebih panas. Jika memiliki tujuan
seperti ini, pastikan bahwa hotel dan alat pengangkutan memiliki pendingin (AC) dan menjauh dari sinar matahari serta tetapi
banyak minum.
b. Rencanakan Perjalanan yang
Santai
Sebuah tujuan tunggal mungkin lebih dipilih daripada tour besar atau
perjalanan bisnis yang membawa ke enam kota dalam enam hari. Sebuah liburan
dimana yang menentukan sendiri kecepatannya akan lebih baik daripada tour
kelompok dimana pemandunyalah yang menetapkan kecepatan perjalanan.
c.
Asuransikan Diri
Dapatkan asuransi perjalanan untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan bahwa
komplikasi kehamilan membuat anda harus mengganti rencana dan tinggal di rumah.
Asuransi kesehatan perjalanan mungkin juga akan berguna jika asuransi rumah
anda tidak melibatkan perawatan medis asing.
d.
Membawa Riwayat Kesehatan
Akan selalu bijaksana, terutama ketika hamil, untuk melakukan perjalanan
dengan membawa riwayat medis yang mengandung informasi tentang golongan darah,
obat yang sedang digunakan dan obat yang alergi dan semua data medis yang
menetap bersamaan dengan nama, alamat, nomor telepon dokter. Simpan semua obat
di dalam tas yang dibawa sendiri dan bawalah tambahan cadangan obat untuk
setiap obat yang diresepkan oleh dokter di dalam dompet untuk menjaga
kemungkinan jika tas hilang, sementara atau selamanya di perjalanan.
e.
Membawa Perlengkapan Pertolongan Pertama untuk Kehamilan
Pastikan bahwa anda membawa cukup vitamin untuk seluruh perjalanan, susu
skim bubuk jika menurut perkiraan anda tidak bisa mendapatkan susu segar yang
sudah dipasteurisasi (tetapi hanya mencampurkannya dengan air yang aman lihat
bagian bawah), beberapa biskuit yang terbuat dari bijian utuh dan makanan kecil
favorit lain yang tidak mudah rusak, plester jika peka terhadap mabuk
perjalanan dan obat untuk sakit perut selama perjalanan yang telah disetujui
oleh dokter, sepatu yang nyaman dan menyediakan cukup ruang untuk mengakomodasi
pembengkakan kaki akibat berjalan atau bekerja terlalu lama.
f.
Siapkan Nama Dokter Spesialis Kebidanan Setempat
Dokter anda mungkin bisa memberikan nama dokter lokal. Jika tidak, hubungi
perkumpulan dokter setempat.
g.
Membawa Catatan Diet Kehamilan
Mungkin anda sedang berlibur, tetapi bayi anda tetap bekerja keras untuk
tumbuh dan berkembang dan tetap memiliki kebutuhan gizi yang sama.
h.
Jangan Minum Air Ledeng
Jangan minum air ledeng atau bahkan menyikat gigi dengannya kecuali yakin
akan keamanannya. Jika di tempat tujuan kemurnian air ledengnya diragukan,
rencanakan untuk menggunakan air botol untuk minum dan sikat gigi, atau bawa
wadah perebus air atau pemanas yang dicelupkan ke dalam air untuk mendidihkan
air ledeng.
i.
Jangan Berenang
Di beberapa area, danau dan lautnya sudah tercemar. Tanyakan keamanan air
di tempat tujuan anda untuk memastikan keamanannya sebelum anda mencebur ke
dalamnya. Juga berhati-hatilah dengan kolam renang yang tidak diklorinasi
dengan benar.
j.
Makan dengan Hati-Hati
Di beberapa area, mungkin tidak aman untuk memakan sayur atau buah yang
mentah dan tidak dikupas. Di semua area, hindari makanan matang yang sekedar
hangat atau bersuhu ruangan, seperti daging, ikan dan unggas mentah atau setengah matang, serta produk susu yang tidak
dipasteurisasi atau tidak disimpan dalam lemari pendingin dan makanan yang
dijual di pinggir jalan bahkan jika makanannya panas.
k.
Mencegah Ketidakaturan Buang Air Besar
Perubahan jadwal dan diet bisa memperparah masalah sembelit. Untuk menhindarinya,
pastikan bahwa anda cukup mendapatkan ketiga pencegah sembelit: serat, cairan
dan olahraga. Mungkin juga membantu jika anda makan sarapan sedikit lebih awal
sehingga anda mempunyai waktu untuk duduk di kamar mandi sebelum anda harus
berangkat pergi.
l.
Buang Air Kecil atau Besar Ketika Merasakan Dorongannya
Jangan memberi kesempatan pada infeksi saluran kemih atau sembelit dengan
menunda perjalanan ke kamar mandi. Pergilah segera mungkin ketika merasakan
dorongannya.
m.
Mendapatkan Dukungan yang Dibutuhkan
Yaitu dukungan dari stocking. Terutama jika anda sedang mengalami varises
tetapi bahkan jika anda menduga bahwa anda peka terhadapnya kenakan stocking
yang memberi sanggahan ketika anda akan banyak duduk. Misalnya di dalam mobil,
pesawat atau kereta api.
n.
Tetap Bergerak
Duduk lama akan menghambat peredaran darah di tungkai, jadi pastikan bahwa
anda sering bergerak di tempat duduk anda, meregangkan, menekuk, menggoyangkan
dan memijat tungkai dan jangan menyilangkan kaki. Jika mungkin, lepaskan sepatu
dan tinggikan kaki. Bangunlah sedikitnya satu atau dua jam sekali untuk
berjalan di sepanjang gang, ketika anda berada di pesawat udara atau kereta
api. Ketika mengadakan perjalanan dengan mobil jangan berjalan selama dua jam
tanpa berhenti sebentar untuk berjalan dan meregang. Ketika duduk lakukan gerak
badan sederhana.
o.
Jika Perjalanan dengan Pesawat Udara
Tanyakan terlebih dahulu apakah perusahaan memiliki peraturan untuk ibu
hamil. Aturlah terlebih dahulu agar bisa duduk di bagian yang atapnya lebih
tinggi atau jika tidak ada pemesanan tempat duduk, lakukanlah sebelum anda naik
ke pesawat. Jangan melakukan penerbangan di kabin yang tekanan udaranya tidak
disesuaikan ketika memesan tiket pesawat tanyakan apakah tersedia makanan yang
menyediakan protein. Kenakan sabuk keselamatan dengan nyaman di bawah perut.
p.
Jika Perjalanan dengan Mobil
Untuk perjalanan panjang, pastikan tempat duduk nyaman. Jika tidak,
pertimbangkan untuk membeli atau meminjam bantal khusus untuk menyangga
punggung. Jika anda mengemudi, duduklah semundur mungkin dan angkat tangkai
kemudi sejauh mungkin dari perut anda. Selalu kenakan sabuk keselamatan.
q.
Jika Perjalanan dengan Kereta Api
Periksa untuk memastikan bahwa ada gerbong makan dengan menu yang lengkap.
Jika melakukan perjalanan malam, mintalah tempat duduk dimana anda bisa tidur.
Bawalah makanan besar atau kecil yang memadai.
F.
KEBUTUHAN PERSIAPAN LAKTASI
ASI (Air
Susu Ibu) merupakan cairan putih yang dihasilkan oleh kelenjar payudara
wanita melalui proses laktasi. ASI terdiri dari berbagai komponen gizi
dan non gizi. Komposisi ASI tidak sama selama periode menyusui, pada
akhir menyusui kadar lemak 4-5 kali dan kadar protein 1,5 kali lebih
tinggi daripada awal menyusui. Juga terjadi variasi dari hari ke hari selama periode laktasi. Keberhasilan
laktasi dipengaruhi oleh kondisi sebelum dan saat kehamilan. Kondisi
sebelum kehamilan ditentukan oleh perkembangan payudara saat lahir
dan saat pubertas. Pada saat kehamilan yaitu trimester II payudara
mengalami pembesaran karena pertumbuhan dan difrensiasi dari
lobuloalveolar dan sel epitel payudara. Pada saat pembesaran payudara ini
hormon prolaktin dan laktogen placenta aktif bekerja yang berperan dalam
produksi ASI.
Sekresi ASI diatur oleh hormon prolaktin dan
oksitosin. Prolaktin menghasilkan ASI dalam alveolar dan bekerjanya
prolaktin ini dipengaruhi oleh lama dan frekuensi pengisapan (suckling).
Hormon oksitosin disekresi oleh kelenjar pituitary sebagai respon adanya
suckling yang akan menstimulasi sel-sel mioepitel untuk mengeluarkan (ejection)
ASI. Hal ini dikenal dengan milk ejection reflex atau let down reflex.
ASI dari
simpanan alveoli ke lacteal sinuses sehingga dapat dihisap bayi melalui
puting susu. Terdapat tiga bentuk
ASI dengan karakteristik dan komposisi berbeda yaitu kolostrum, ASI
transisi, dan ASI matang (mature). Kolostrum adalah cairan yang
dihasilkan oleh kelenjar payudara setelah melahirkan (4-7 hari) yang
berbeda karakteristik fisik dan komposisinya dengan ASI matang dengan
volume 150 – 300 ml/hari. ASI transisi adalah ASI yang dihasilkan setelah
kolostrum (8-20 hari) dimana kadar lemak dan laktosa lebih tinggi dan kadar
protein, mineral lebih rendah.
ASI matang adalah ASI yang dihasilkan 21 hari setelah melahirkan dengan
volume bervariasi yaitu 300 – 850 ml/hari tergantung pada besarnya stimulasi
saat laktasi. Volume ASI pada tahun pertama adalah 400 – 700 ml/24 jam,
tahun kedua 200 – 400 ml/24 jam, dan sesudahnya 200 ml/24 jam. Dinegara
industri rata-rata volume ASI pada bayi dibawah usia 6 bulan adalah 750
gr/hari dengan kisaran 450 – 1200 gr/hari (ACC/SCN, 1991). Pada studi
Nasution.A (2003) volume ASI bayi usia 4 bulan adalah 500 – 800 gr/hari,
bayi usia 5 bulan adalah 400 – 600 gr/hari, dan bayi usia 6 bulan adalah
350 – 500 gr/hari.
Produksi ASI dapat meningkat atau menurun
tergantung pada stimulasi pada kelenjar payudara terutama pada minggu
pertama laktasi.
Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Produksi ASI
1. Frekuensi Penyusuan
Pada ibu dengan bayi prematur disimpulkan bahwa produksi
ASI akan optimal dengan pemompaan ASI lebih dari 5 kali per hari selama
bulan pertama setelah melahirkan. Pemompaan dilakukan karena bayi
prematur belum dapat menyusu. Studi lain yang dilakukan pada ibu dengan bayi
cukup bulan menunjukkan bahwa frekuensi penyusuan 10 ± 3 kali perhari selama
2 minggu pertama setelah melahirkan berhubungan dengan produksi ASI
yang cukup. Berdasarkan hal ini direkomendasikan penyusuan paling
sedikit 8 kali perhari pada periode awal setelah melahirkan. Frekuensi
penyusuan ini berkaitan dengan kemampuan stimulasi hormon dalam kelenjar
payudara.
2. Berat Lahir
Mengamati hubungan berat lahir bayi dengan volume
ASI. Hal ini berkaitan dengan kekuatan untuk mengisap, frekuensi, dan lama
penyusuan dibanding bayi yang lebih besar. Berat bayi pada hari kedua dan
usia 1 bulan sangat erat berhubungan dengan kekuatan mengisap yang
mengakibatkan perbedaan intik yang besar dibanding bayi yang mendapat
formula. Menemukan hubungan positif berat lahir bayi dengan frekuensi dan
lama menyusui selama 14 hari pertama setelah lahir. Bayi berat lahir rendah
(BBLR) mempunyai kemampuan mengisap ASI yang lebih rendah dibanding bayi
yang berat lahir normal (> 2500 gr). Kemampuan mengisap ASI yang lebih
rendah ini meliputi frekuensi dan lama penyusuan yang lebih rendah
dibanding bayi berat lahir normal yang akan mempengaruhi stimulasi hormon
prolaktin dan oksitosin dalam memproduksi ASI.
3. Umur Kehamilan saat
Melahirkan
Umur kehamilan dan berat lahir mempengaruhi intik ASI.
Hal ini disebabkan bayi yang lahir prematur (umur kehamilan kurang dari
34 minggu) sangat lemah dan tidak mampu mengisap secara efektif sehingga
produksi ASI lebih rendah daripada bayi yang lahir tidak prematur. Lemahnya
kemampuan mengisap pada bayi prematur dapat disebabkan berat badan yang
rendah dan belum sempurnanya fungsi organ.
4. Umur dan Paritas
Umur dan paritas tidak berhubungan atau kecil hubungannya
dengan produksi ASI yang diukur sebagai intik bayi terhadap ASI.Menemukan
bahwa pada ibu menyusui usia remaja dengan gizi baik, intik ASI mencukupi
berdasarkan pengukuran pertumbuhan 22 bayi dari 25 bayi. Pada ibu yang
melahirkan lebih dari satu kali, produksi ASI pada hari keempat setelah
melahirkan lebih tinggi dibanding ibu yang melahirkan pertama kali.
5. Stres dan Penyakit Akut
Ibu yang cemas dan stres dapat mengganggu laktasi
sehingga mempengaruhi produksi ASI karena menghambat pengeluaran ASI.
Pengeluaran ASI akan berlangsung baik pada ibu yang merasa rileks dan
nyaman. Studi lebih lanjut diperlukan untuk mengkaji dampak dari berbagai
tipe stres ibu khususnya kecemasan dan tekanan darah terhadap produksi
ASI. Penyakit infeksi baik yang kronik maupun akut yang mengganggu proses
laktasi dapat mempengaruhi produksi ASI.
6. Konsumsi Rokok
Merokok dapat mengurangi volume ASI karena akan
mengganggu hormon prolaktin dan oksitosin untuk produksi ASI. Merokok
akan menstimulasi pelepasan adrenalin dimana adrenalin akan menghambat
pelepasan oksitosin. Studi Lyon,(1983); Matheson, (1989) menunjukkan
adanya hubungan antara merokok dan penyapihan dini meskipun volume ASI
tidak diukur secara langsung.
Ada dua cara untuk mengukur
produksi ASI yaitu penimbangan berat badan bayi sebelum dan setelah
menyusui; dan pengosongan payudara. Kurva berat badan bayi merupakan cara
termudah untuk menentukan cukup tidaknya produksi ASI, meliputi protein,
karbohidrat, dan lemak berasal dari sintesis dalam kelenjar payudara dan
transfer dari plasma ke ASI, sedangkan vitamin dan mineral berasal dari
transfer plasma ke ASI. Semua fenomena fisiologi dan biokimia yang
mempengaruhi komposisi plasma dapat juga mempengaruhi komposisi ASI.
Komposisi ASI dapat dimodifikasi oleh hormon yang mempengaruhi sintesis
dalam kelenjar payudara.
Aspek gizi ibu yang dapat
berdampak terhadap komposisi ASI adalah intik pangan aktual, cadangan
gizi, dan gangguan dalam penggunaan zat gizi. Perubahan status gizi ibu
yang mengubah komposisi ASI dapat berdampak positif, netral, atau negatif
terhadap bayi yang disusui. Bila asupan gizi ibu berkurang tetapi kadar
zat gizi dalam ASI dan volume ASI tidak berubah maka zat gizi untuk
sintesis ASI diambil dari cadangan ibu atau jaringan ibu. Komposisi ASI
tidak konstan dan beberapa faktor fisiologi dan faktor non fisiologi berperan
secara langsung dan tidak langsung. Faktor fisiologi meliputi umur
penyusuan, waktu penyusuan, status gizi ibu, penyakit akut, dan pil
kontrasepsi. Faktor non fisiologi meliputi aspek lingkungan, konsumsi
rokok dan alkohol (Matheson, 1989).