Minggu, 15 Juli 2012

TEKNIK VASEKTOMI TANPA PISAU


Langkah 1.     Celana dibuka dan baringkan pasien dalam poisi telentang.
Langkah 2.     Rambut di daerah skrotum dicukur sampai bersih.
Langkah 3.     Penis diplester ke dinding perut.
Langkah 4.     Daerah kulit skrotum, penis, supra pubis dan bagian dalam pangkal paha kiri kanan dibersihkan dengan cairan yang tidak merangsang seperti larutan Iodofor (Betadine) atau larutan Klorheksidin (Hibiscrub) 4%.
Langkah 5.     Tutuplah daerah yang telah dibersihkan tersebut dengan kain steril berlubang pada tempat skrotum ditonjolkan keluar.
Langkah 6.     Tepat di linea mediana di atas vas deferens, kulit skrotum diberi anestesi local (Prokain atau Novokain atau Xilokain 1%) 0,5 ml, lalu jarum diteruskan masuk sejajar vas deferens kea rah distal, kemudian dideponir lagi masing-masing 3 – 4 ml, prosedur ini dilakukan sebelah kanan dan kiri.
Langkah 7.     Vas deferens dengan kulit skrotum yang ditegangkan difiksasi di dalam lingkaran klem fiksasi pada garis tengah skrotum. Kemudian klem direbahkan ke bawah sehingga vas deferens mengarah ke bawah kulit.
Langkah 8.     Kemudian tusuk bagian yang paling menonjol dari vas deferens, tepat di sebelah distal lingkaran klem dengan sebelah ujung klem diseksi dengan membentuk sudut ± 45°.
Sewaktu menusuk vas deferens sebaiknya sampai kena vas deferens; kemudian klem diseksi ditarik, tutupkan ujung-ujung klem dan dalam keadaan tertutup ujung klem dimasukkan kembali dalam lobang tusukan, searah jalannya vas deferens.
Langkah 9.     Renggangkan ujung-ujung klem pelan-pelan. Semua lapisan jaringan dari kulit sampai dinding vas deferens akan dapat dipisahkan dalam satu gerakan. Setelah itu dinding vas deferens yang telah telanjang dapat terlihat.
Langkah 10.   Dengan ujung klem diseksi menghadap ke bawah, tusukkan salah satu ujung klem ke dinding vas deferens; dan ujung klem diputar menurut arah jarum jam, sehingga ujung klem menghadap ke atas. Ujung klem pelan-pelan dirapatkan dan pegang dinding anterior vas deferens. Lepaskan klem fiksasi dari kulit dan pindahkan untuk memegang vas deferens yang telah terbuka. Pegang dan fiksasi vas deferens yang sudah telanjang dengan klem fiksasi lalu lepaskan klem diseksi.
Langkah 11.   Pada tempat vas deferens yang melengkung, jaringan sekitarnya dipisahkan pelan-pelan ke bawah dengan klem diseksi. Kalau lobang telah cukup luas, lalu klem diseksi dimasukkan ke lobang tersebut. Kemudian buka ujung-ujung klem pelan-pelan parallel dengan arah vas deferens yang diangkat.
Diperlukan kira-kira 2 cm vas deferens yang bebas. Vas deferens di-crush secara lunak dengan klem diseksi, sebelum dilakukan ligasi dengan benang sutra 3 – 0.
Langkah 12.   Di antara dua ligasi kira-kira 1 – 1,5 cm vas deferens dipotong dan diangkat. Benang pada putung distal sementara tidak dipotong. Kontrol perdarahan dan kembalikan putung-putung vas deferens dalam skrotum.
Langkah 13.   Tarik pelan-pelan benang pada puntung yang distal. Pegang secara halus fasia vas deferens dengan klem diseksi dan tutup lobang fasia dengan mengikat sedemikan rupa sehingga puntung bagian epididimis tertutup dan puntung distal ada di luar fasia.
Apabila tidak ada perdarahan pada keadaan vas deferens tidak tegang, maka benang yang terakhir dapat dipotong dan vas deferens dikembalikan dalam skrotum.
Langkah 14.   Lakukanlah tindakan di atas (Langkah 7 – 13) uuntuk vas deferens sebelah yang lain, melalui luka di garis tengah yang sama. Kalau tidak ada perdarahan, luka kulit tidak perlu dijahit hanya diaproksimasikan dengan band aid atau tensoplas.


Kemungkinan Penyulit dan Cara Mengatasinya
1.      Perdarahan
Apabila perdarahan sedikit, cukup dengan pengamatan saja, bila banyak, hendaknya dirujuk segera ke fasilitas kesehatan lain yang lebih lengkap. Di sini akan dilakukan operasi kembali dengan anestesi umum, membuka luka, mengeluarkan bekuan-bekuan darah dan kemudian mencari sumber perdarahan serta menjepit dan mengikatnya. Setiap keluhan pembengkakak isi skrotum pasca vasektomi hendaknya dicurigai sebagai perdarahan dan lakukan pemeriksaan yang seksana. Bekuan darah di dalam skrotum yang tidak dikeluarkan akan mengundang kuman-kuman dan menimbulkan infeksi.

2.      Hematoma
Bisanya terjadi bila daerah skrotum diberi beban yang berlebihan, misal naik sepeda, duduk terlalu lama dalam kendaraan dengan jalanan yang rusak dan sebagainya.

3.      Infeksi
Infeksi pada  kulit skrotum cukup dengan mengobati menurut prinsip pengobatan luka kulit. Apabila basah, dengan kompres (dengan zat yang tidak merangsang). Apabila kering dengan salep antibiotika. Apabila terjadi infiltrate di dalam kulit skrotum di tempat vasektomi sebaiknya segera dirujuk ke rumah sakit. Disini pasien akan diistirahatkan dengan berbaring, kompres es, pemberian antibiotika, dan pengamatan apabila infiltrate menjadi abses. Mungkin juga terjadiepididimitis, orkitis atau epididimoorkitis. Dalam keadaan seperti ini pasien segera dirujuk. Di sini akan dilakukan istirahat baring, kompres es, pemberian antibiotika dan analgetika.

4.      Granuloma Sperma
Dapat terjadi pada ujung proksimal vas atau pada epididimis. Gejalanya merupakan benjolan kenyal dengan kadang-kadang keluhan nyeri. Granuloma sperma dapat terjadi 1 – 2 minggu setelah vasektomi. Pada keadaan ini dilakukan eksisi granuloma dan mengikat kembali vas deferens. Terjadi pada 0,1 – 30 % kasus.




5.      Antibiotika Sperma
Separuh sampai dua pertiga akseptor vasektomi akan membentuk antibody terhadap sperma. Sampai kini tidak pernah terbukti adanya penyulit yang disebabkan adanya antibody tersebut.

Kegagalan Vasektomi
Walaupun vasektomi dinilai paling efektif untuk mengontrol kesuburan pria, namun masih mungkin dijumpai suatu kegagalan.
Vasektomi diangggap gagal bila:
a.       Pada analisis sperma setelah 3 bulan pasca vasektomi atau setelah 15 – 20 kali ejakulasi masih dijumpai spermatozoa.
b.      Dijumpai spermatozoa setelah sebelumnya azoosperma.
c.       Istri (pasangan) hamil.

Perawatan dan Pemeriksaan Pascabedah Vasektomi
Setiap pascatindak pembedahan betapapun kecilnya memerlukan perawatan dan pemeriksaan lanjutan. Pada pascatindak bedah vasektomi dianjurkan dilakukan hal-hal sebagai berikut:
a.       Dipersilakan berbaring selama 15 menit.
b.      Amati rasa nyeri dan perdarahan pada luka.
c.       Pasien dapat dipulangkan bila keadaan pasien dan luka operasi baik.
Sebelum pulang berikan nasehat sebagai berikut:
a.       Perawatan luka, diusahakan agar tetap kering dan jangan sampai basah sebelum sembuh, karena dapat mengakibatkan infeksi. Pakailah celana dalam yang bersih.
b.      Segera kembali ke rumah sakit apabila terjadi perdarahan, badan panas, nyeri yang hebat, pusing, muntah atau sesak napas.
c.       Memakan obat yang diberikan yaitu antibiotika profilaktik dan analgetik seperlunya.
d.      Jangan bekerja berat / naik sepeda.

e.       Setelah divasektomi tetap diperbolehkan, bahkan dianjurkan untuk melakukan hubungan seksual dengan istri, namun harus diingat bahwa di dalam saluran mani (pipa-pipa) vas deferens masih terdapat sisa-sisa sperma (bibit), sehingga selama masih ada sisa sperma, sebaiknya suami dan istri tetap menggunakan alat pencegahan kehamilan.
Untuk itu kepada suami diberikan 15 kondom, guna menghindari kehamilan, petugas akan memberi contoh cara pemakaiannya. Setelah air mani keluar 15 kali atau setelah jangka waktu 3 bulan, maka suami diminta memriksakan air maninya dengan maksud meyakinkan bahwa air mani tersebut tidak mengandung bibit-bibit (spermatozoa) lagi.
Untuk kperluan ini, suami diminta menyediakan air mani di dalam botol bersih atau ait mani yang ada di dalam kondom dan memeriksakannya di laboratorium. Bila sudah ada pernyataan dari laboratorium bahwa air mani suami tidak mengandung bibit lagi, barulah ia boleh bersenggama tanpa alat pencegah apapun lebih baik bila ia memeriksakan air mani untuk kedua kalinya.

Kunjungan Ulang
Kunjungan ulang dilakukan dengan jadwal sebagai berikut:
1.      Seminggu sampai dua minggu setelah pembedahan.
Lakukan anamnesis dan pemeriksaan sebagai berikut:
a.       Anamnesis meliputi keadaan kesehatan umum, adanya demam, rasa nyeri, perdarahan dari bekas operasi, atau alat kelamin.
b.      Pemeriksaan fisik dengan melakukan pemeriksaan lukam dan perawatan sebagaimana mestinya.
2.      Sebulan setelah operasi
Lakukan anamnesis dan pemeriksaan sebagai berikut:
a.       Anamnesis meliputi keadaan kesehatan umum, dan sanggama.
b.      Pemeriksaan fisik dengan melakukan pemeriksaan fisik umum dan alat genitalia.
3.      Tiga bulan dan setahun setelah operasi
Lakukan anamnesis dan pemeriksaan sebagai berikut:
a.       Anamnesis meliputi keadaan kesehatan umum, senggama, sikap terhadap kontrasepsi mantap, dan keadaan kejiwaan si akseptor.
b.      Pemeriksaan fisik dengan melakukan pemeriksaan kesehatan umum.
c.       Lakukan analisa sperma setelah 3 bulan pasca vasektomi atau 10 – 12 kali ejakulasi untuk menilai hasil pembedahan.

REKANALISASI


Rekanalisasi Tuba Fallopii
Operasi rekanalisasi dengan teknik bedah mikro sudah banyak dikembangkan. Teknik ini tidak saja menyambung kembali tuba Fallopii dengan baik, tetapi juga menjamin kembalinya fungsi tuba. Hal ini disebabkan oleh teknik bedah mikro yang secara akurat menyambung kembali tuba dengan trauma yang minimal, mengurangi perlekatan pascaoperasi, mempertahankan fisiologi tuba, serta menjamin fimbriae tuba tetap bebas sehingga fungsi penangkapan ovum masih tetap baik.

Seleksi Kasus
Tidak semua klien pasca tubektomi dapat dengan mudah menjalankan rekanalisasi atau dikabulkan permintaan rekanalisasinya. Beberapa pertimbangan harus diberikan untuk keberhasilan rekanalisasi tersebut.

Beberapa Indikasi Kontra
1.      Umur klien > 37 tahun
2.      Tidak ada ovulasi (atau ada masalah dari faktor ovarium)
3.      Suami oligospermi atau azoospermi
4.      Keadaan kesehatan yang tidak baik, di aman kehamilan akan memperburuk kesehatannya.
5.      Tuberculosis genitalia interna.
6.      Perlekatan organ-organ pelvic yang luas dan berat.
7.      Tuba yang sehat terlalu pendek (kurang dari 4 cm).
8.      Infeksi pelvis yang masih aktif.
Beberapa Pertimbangan sebelum Memutuskan untuk Operasi
Pemilihan klien dilakukan berdasarkan:
1.      Pemeriksaan praoperatif
a.       Anamnesis yang lengkap, termasuk laporan operasi daerah pelvis dan penyakit panggul terdahulu.
b.      Pemeriksaan fisik umum (status generalis).
c.       Pemeriksaan ginekologis.
d.      Pemeriksaan laparoskop, dan / atau
e.       Pemeriksaan histerosalpingografi.
2.      Keputusan untuk operasi dan waktunya
a.       Apakah bisa dilakukan pembedahan mikro pada kasus tersebut.
b.      Apakah tindakan pembedahan tersebut akan memberikan hasil yang baik untuk klien agar dapat hamil.
Bila jawaban Ya, harus ditentukan waktu operasi. Tindakan pembedahan biasanya dilakukan di rumah sakit oleh ahli bedah yang terlatih serta dengan sarana yang lengkap untuk operasi mikro (micro surgery).

Jumat, 13 Juli 2012

KEBUTUHAN FISIK IBU HAMIL TRIMESTER I, II DAN III

A.     KEBUTUHAN MOBILISASI DAN BODY MEKANIK
1.      Kebutuhan Mobilisasi
Kemampuan bergerak bebas, melangkah dengan baik, dan berirama, dengan maksud dan tujuan tertentu merupakan hal yang penting dalam melakukan kegiatan hidup atau suatu usaha dari manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya melalui bergerak. Kemampuan seseorang bergerak dalam upaya memenuhi kebutuhan sehari-hari disebut dengan Mobilisasi. Pembatasan pergerakan oleh karena suatu kondisi dan keadaan disebut dengan Imobilisasi. Pergerakan seseorang yang dibantu dengan alat disebut Ambulasi.

a.      Pengertian Mobilisasi
Mobilisasi adalah suatu kondisi dimana tubuh dapat melakukan keegiatan dengan bebas (Kosier, 1989).

b.      Tujuan Mobilisasi
Tujuan dari mobilisasi antara lain:
1)      Memenuhi kebutuhan dasar manusia,
2)      Mencegah terjadinya trauma,
3)      Mempertahankan tingkat kesehatan,
4)      Mempertahankan interaksi sosial dan peran sehari-hari, dan
5)      Mencegah hilangnya kemampuan fungsi tubuh.

c.       Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Mobilisasi
1)      Gaya Hidup
Gaya hidup seseorang sangat tergantung dari tingkat pendidikannya. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan di ikuti oleh perilaku yang dapat meningkatkan kesehatannya. Demikian halnya dengan pengetahuan kesehatan tetang mobilitas, seseorang akan senantiasa melakukan mobilisasi dengan cara yang sehat misalnya; seorang ABRI akan berjalan dengan gaya berbeda dengan seorang pramugari atau seorang pemabuk.
2)      Proses Penyakit dan Injuri
Adanya penyakit tertentu yang diderita seseorang akan mempengaruhi mobilitasnya misalnya; seorang yang patah tulang akan kesulitan untuk mobilisasi secara bebas. Demikian pula orang yang baru menjalani operasi, karena adanya nyeri mereka cenderung untuk bergerak lebih lamban. Ada kalanya klien harus istirahat di tempat tidur karena mederita penyakit tertentu misalnya; CVA yang berakibat kelumpuhan, typoid dan penyakit kardiovaskuler.
3)      Kebudayaan
Kebudayaan dapat mempengaruhi pola dan sikap dalam melakukan aktifitas misalnya; seorang anak desa yang biasa jalan kaki setiap hari akan berbeda mobilitasnya dengan anak kota yang biasa pakai mobil dalam segala keperluannya. Wanita keraton akan berbeda mobilitasnya dibandingkan dengan seorang wanita madura dan sebagainya.
4)      Tingkat Energi
Setiap orang mobilisasi jelas memerlukan tenaga atau energi, orang yang sedang sakit akan berbeda mobilitasnya di bandingkan dengan orang sehat apalagi dengan seorang pelari.
5)      Usia dan Status Perkembangan
Seorang anak akan berbeda tingkat kemampuan mobilitasnya dibandingkan dengan seorang remaja. Anak yang selalu sakit dalam masa pertumbuhannya akan berbeda pula tingkat kelincahannya dibandingkan dengan anak yang tidak sering sakit.

d.      Tipe Persendian dan Pergerakan Sendi
Dalam sistim muskuloskeletal dikenal 2 maca persendian yaitu sendi yang dapat digerakkan (diartroses) dan sendi yang tidak dapat digerakkan (siartrosis).


e.      Toleransi Aktifitas
Penilaian tolerasi aktifitas sangat penting terutama pada klien dengan gangguan kardiovaskuler, seperti Angina Pektoris, Infark, Miocard atau pada klien dengan immobiliasi yang lama akibat kelumpuhan. Hal tersebut biasanya dikaji pada waktu sebelum melakukan mobilisai, saat mobilisasi dan setelah mobilisasi.
Tanda-tanda yang dapat di kaji pada intoleransi aktifitas antara lain (Gordon, 1976):
1)      Denyut nadi frekuensinya mengalami peningkatan dan irama tidak teratur,
2)      Tekanan darah biasanya terjadi penurunan tekanan sistol/hipotensi orthostatic,
3)      Pernafasan terjadi peningkatan frekuensi, pernafasan cepat dan dangkal,
4)      Warna kulit dan suhu tubuh terjadi penurunan,
5)      Kecepatan dan posisi tubuh akan mengalami kecepatan aktifitas dan ketidak stabilan posisi tubuh, dan
6)      Status emosi labil.

f.        Masalah Fisik
Masalah fisik yang dapat terjadi akibat immobilitasi dapat dikaji / diamati pada berbagai sistim antara lain:
1)      Masalah Musculoskeletal
Menurunnya kekuatan dan kemampuan otot, atropi, kontraktur, penurunan mineral, tulang dan kerusakan kulit.
2)      Masalah Urinaria
Terjadi statis urine pada pelvis ginjal, pengapuran infeksi saluran kemih dan inkontinentia urine.
3)      Masalah Gastrointestinal
Terjadinya anoreksia / penurunan nafsu makan, diarrhoe dan konstipasi.
4)      Masalah Respirasi
Penurunan ekspansi paru, tertumpuknya sekret dalam saluran nafas, ketidak seimbangan asam basa (CO2 dan O2).
5)      Masalah Kardiofaskuler
Terjadinya hipotensi orthostatic, dan pembentukan trombus.
g.      Upaya Mencegah Terjadinya Masalah akibat Kurangnya Mobilisasi
Upaya mencegah terjadinya masalah akibat kurangnya mobilisasi antara lain:
1)      Perbaikan status gizi,
2)      Memperbaiki kemampuan mobilisasi,
3)      Melaksanakan latihan pasif dan aktif,
4)      Mempertahankan posisi tubuh dengan benar sesuai dengan body aligmen (struktur tubuh), dan
5)      Melakukan perubahan posisi tubuh secara periodik (mobilisasi untuk menghindari terjadinya dekubitus / pressure area akibat tekanan yang menetap pada bagian tubuh.

h.      Macam-Macam Posisi Klien di Tempat Tidur
1)      Posisi fowler (setengah duduk)
2)      Posisi litotomi
3)      Posisi dorsal recumbent
4)      Posisi supinasi (terlentang)
5)      Posisi pronasi (tengkurap)
6)      Posisi lateral (miring)
7)      Posisi sim
8)      Posisi trendelenbeg (kepala lebih rendah dari kaki).

i.        Manfaat Mobilisasi
1)      Meningkatkan harga diri dan body image,
2)      Memperbaiki sistem tubuh dan aktifitas yang teratur,
3)      Meningkatkan derajat kesehatan,
4)      Mencegah ketidakmampuan, dan
5)      Memperlambat serangan penyakit degenerative.

MOBILISASI DENGAN MEMBERIKAN POSISI MIRING
1.      Tujuan
a.      Mempertahankan body aligment.
b.      Mengurangi komplikasi akibat immobilisasi.
c.       Meningkatkan rasa nyaman.
d.      Mengurangi kemungkinan terjadinya cedera pada perawat maupun klien.
e.      Mengurangi kemungkinan tekanan yang menetap pada tubuh akibat posisi yang menetap.

2.      Indikasi
a.      Penderita yang mengalami kelumpuhan baik hemiplegi maupun paraplegi.
b.      Penderita yang mengalami kelemahan dan pasca operasi.
c.       Penderita yang mengalami pengobatan (immobilisasi).
d.      Penderita yang mengalami penurunan kesadaran.

3.      Persiapan
a.      Berikan penjelasan kepada klien maksud dan tujuan dilakukan tindakan mobilisasi ke posisi lateral.
b.      Cuci tangan sebelum melakukan tindakan untuk membatasi penyebaran kuman mikroorganisme.
c.       Pindahkan segala rintangan sehingga perawat leluasa bergerak.
d.      Siapkan peralatan yang diperlukan.
e.       Yakinkan bahwa klien cukup hangat dan privasy terlindungi.

4.      Hal-Hal yang Harus Diperhatikan
a.      Perawat harus mengetahui teknik mobilisasi yang benar.
b.      Bila klien terlalu berat pastikan mencari pertolongan.
c.       Tanyakan kepada dokter tentang indikasi dan kebiasaan dilakukannya mobilisasi.

5.      Persiapan Alat
a.      Satu bantal penopang lengan,
b.      Satu bantal penopang tungkai, dan
c.       Bantal penopang tubuh bagian belakang.

6.      Cara Kerja
a.      Angkat / singkirkan rail pembatas tempat tidur pada sisi di mana perawat akan melakukan mobilisasi.
b.      Pastikan posisi pasien pada bagian tengah tempat tidur, posisi supinasi lebih mudah bila di lakukan mobilisasi lateral.
c.       Perawat mengambil posisi sebagai berikut:
1)      Perawat mengambil posisi sedekat mungkin menghadap klien di samping tempat tidur, lurus pada bagian abdomen klien sesuai arah posisi lateral (misalnya; mau memiringkan ke kanan, maka perawat ada di samping kanan klien).
2)      Kepala tegak, dagu di tarik ke belakang untuk mempertahankan punggung pada posisi tegak.
3)      Posisi pinggang tegak untuk melindungi sendi dan ligamen.
4)      Lebarkan jarak kedua kaki untuk menjaga kestabilan saat menarik tubuh klien.
5)      Lutut dan pinggul tertekuk / fleksi.
d.      Kemudian letakkan tangan kanan lurus di samping tubuh klien untuk mencegah klien terguling saat di tarik ke posisi lateral (sebagai penyangga).
e.      Kemudian letakkan tangan kiri klien menyilang pada dadanya dan tungkai kiri menyilang diatas tungkai kanan dengan tujuan agar memberikan kekuatan saat didorong.
f.        Kemudian kencangkan otot gluteus dan abdomen serta kaki fleksi bersiap untuk melakukan tarikan terhadap tubuh klien, yakinkan menggunakan otot terpanjang dan terkuat pada tungkai dengan tujuan mencegah trauma dan menjaga kestabilan.
g.      Letakkan tangan kanan perawat pada pangkal paha klien dan tangan kiri diletakkan pada bahu klien.
h.      Kemudian tarik tubuh klien ke arah perawat dengan cara:
1)      Kuatkan otot tulang belakang dan geser berat badan perawat ke bagian pantat dan kaki.
2)      Tambahkan fleksi kaki dan pelfis perawat lebih direndahkan lagi untuk menjaga keseimbangan dan ketidakstabilan.
3)      Yakinkan posisi klien tetap nyaman dan tetap dapat bernafas lega.
i.        Kemudian atur posisi klien dengan memberikan ganjaran bantal pada bagian yang penting sebagai berikut:
1)      Tubuh klien berada di samping dan kedua lengan berada di bagian depan tubuh dengan posisi fleksi, berat badan klien tertumpu pada bagian skakula dan illeum. Berikan bantal pada bagian kepala agar tidak terjadi abduksi dan adduksi pada sendi leher.
2)      Kemudian berikan bantal sebagai ganjalan antara kedua lengan dan dada untuk mencegah keletihan otot dada dan terjadinya lateral fleksi serta untuk mencegah / membatasi fungsi internal rotasi dan abduksi pada bahu dan lengan atas.
j.        Berikan ganjalan bantal pada bagian belakang tubuh klien bila di perlukan untuk memberikan posisi yang tepat.
k.       Rapikan pakaian dan linen klien serta bereskan alat yang tidak digunakan.
l.        Dokumentasikan tindakan yang telah di kerjakan.

2.      Kebutuhan Body Mekanik
a.      Body mekanik penting untuk koordinasi dan keamanan menggunakan tubuh dalam menghasilkan pergerakan dan memelihara keseimbangan selama beraktifitas.
b.      Pergerakan yang tepat meningkatkan fungsi muskuloskeletal tubuh, mengurangi energi yang digunakan untuk pergerakan dan memelihara keseimbangan sehingga dapat mengurangi kelelahan (fatique) dan menurunkan resiko terjadinya injury.
c.       Tujuan utama dari body mekanik adalah untuk memfasilitasi keamanan dan efisiensi penggunaan sesuai dari otot-otot.
d.      Body mekanik terdiri dari 3 elemen dasar yaitu: Body Aliegment, Body Balance, dan Body Movement.

B.      KEBUTUHAN EXERCISE (SENAM HAMIL)
Olah raga sangat penting bagi ibu hamil, untuk tetap mendapatkan tubuh yang sehat dan bugar. Namun olah raga yang dilakukan juga harus yang sesuai dengan perubahan fisik. Senam yang pas dilakukan saat kehamilan adalah senam hamil.
Senam hamil biasanya dimulai saat kehamilan memasuki trisemester ketiga, yaitu sekitar usia 28-30 minggu kehamilan. Selain untuk menjaga kebugaran, senam hamil juga diperlukan untuk meningkatkan kesiapan fisik dan mental calon ibu selama proses persalinan.

1.      Pengertian Senam Hamil
Senam hamil adalah suatu gerak atau olah tubuh yang dilaksanakan oleh ibu hamil sehingga ibu tersebut menjadi siap baik fisik maupun mental untuk menghadapi kehamilan dan persalinannya dengan aman dan alami (Hamilton P. (1995)).

2.      Tujuan Senam Hamil
a.      Tujuan Umum Senam Hamil
1)      Melalui latihan senam hamil yang teratur dapat dijaga kondisi otot-otot dan persediaan yang berperan dalam mekanisme persalinan.
2)      Mempertinggi kesehatan fisik dan psikis serta kepercayaan diri sendiri dalam menghadapi persalinan.
3)      Membimbing wanita menuju suatu persalinan yang fisiologis.
b.      Tujuan Khusus Senam Hamil
1)      Memperkuat dan mempertahankan elastisitas otot-otot dinding perut, otot-otot dasar panggul, ligamen, dan jaringan serta fasia yang berperan dalam mekanisme persalinan.
2)      Melonggarkan persendian-persendian yang berhubungan dengan proses persalinan.
3)      Membentuk sikap tubuh yang prima, sehingga dapat membantu mengatasi keluhan-keluhan, letak janin, dan mengurangi sesak nafas.
4)      Memperoleh cara kontraksi dan relaksasi yang sempurna.
5)      Menguasai teknik-teknik pernafasan dalam persalinan.
6)      Dapat mengatur diri dalam ketenangan.

3.      Syarat Melakukan Senam Hamil
a.      Telah dilakukan pemeriksaan kesehatan dan kehamilan oleh dokter atau bidan.
b.      Latihan dilakukan setelah kehamilan mencapai 22 minggu.
c.       Latihan dilakukan secara teratur dan disiplin, sebaiknya latihan dilakukan di rumah sakit atau klinik bersalin dibawah pimpinan instruktur senam hamil. (Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH.1998)

4.      Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Melakukan Senam Hamil
a.      Petugas kesehatan sebaiknya mengadakan pengawasan selama melatih.
b.      Latihan fisik atau olahraga dapat dianjurkan, dimulai mulai kehamilan 7 bulan.
c.       Makan yang cukup agar tenaga selalu ada. Tidak ada kontra indikasi melakukan senam hamil (Hamilton P. (1995)).

5.      Tujuan Senam Hamil
Berikut beberapa tujuan senam hamil:
a.      Menguasai teknik pernapasan.
Latihan pernapasan sangat bermanfaat untuk mendapatkan oksigen, sedangkan teknik pernapasan dilatih agar ibu siap menghadapi persalinan.
b.      Memperkuat elastisitas otot.
Memperkuat dan mempertahankan elastisitas otot-otot dinding perut, sehingga dapat mencegah atau mengatasi keluhan nyeri di bokong, di perut bagian bawah dan keluhan wasir.
c.       Mengurangi keluhan.
Melatih sikap tubuh selama hamil sehingga mengurangi keluhan yang timbul akibat perubahan bentuk tubuh.
d.      Melatih relaksasi.
Proses relaksasi akan sempurna dengan melakukan latihan kontraksi dan relaksasi yang diperlukan untuk mengatasi ketegangan atau rasa sakit saat proses persalinan.
e.      Menghindari kesulitan.
Senam ini membantu persalinan sehingga ibu dapat melahirkan tanpa kesulitan, serta menjaga ibu dan bayi sehat setelah melahirkan.


6.      Beberapa Petunjuk dalam Melakukan Senam Hamil
a.      Latihan Otot Kaki
1)      Duduklah dengan posisi kedua lutut diluruskan, tubuh bersandar pada kedua lengan yang diletakkan di belakang pantat.
2)      Tegakkan kedua telapak kaki dengan lutut menekan kasur. Kemudian tundukkan kedua telapak kaki bersama jari-jarinya. Ulangi beberapa kali.
3)      Hadapkan kedua telapak kaki satu sama lain dengan lutut tetap menghadap ke atas, kembalikan ke posisi semula. Ulangi terus sebanyak beberapa kali.
4)      Kedua telapak kaki digerakkan turun ke arah bawah, lalu gerakan membuka ke arah samping, tegakkan, kembali, dan seterusnya.
5)      Kedua telapak kaki buka dari atas ke samping turunkan, hadapkan, kembali ke posisi semula, dan seterusnya.
Fungsi: Memperlancar sirkulasi darah di kaki dan mencegah pembengkakan pada pergelangan kaki.

b.      Latihan Pernapasan
1)      Pernapasan Perut
·         Tidurlah terlentang dengan satu bantal, kedua lutut dibengkokkan dan dibuka kurang lebih 20 cm.
·         Letakkan kedua telapak tangan di atas perut di sekitar pusat sebagai perangsang.
·         Tarik napas dari hidung dengan mulut tertutup, perut mengembang mendorong kedua tangan ke atas. Perhatikan bahwa gerakan pernafasan dilakukan dengan perut (jadi dada tidak ikut kembang kempis).
Fungsi: Melemaskan dinding perut agar mudah diperiksa oleh dokter/bidan.
2)      Pernapasan Iga
·         Tidur terlentang (seperti pada pernafasan perut), letakkan kedua tangan dalam posisi mengepal di iga sebagai perangsang.
·         Bernapaslah seperti pada pernapasan perut, dengan pengecualian tangan menekan iga ke dalam dan iga mengembang mendorong kedua tangan ke arah samping luar.
Fungsi: Mendapatkan oksigen sebanyak mungkin.
3)      Pernapasan Dada
·         Tidur terlentang (seperti pada pernapasan perut), letakkan kedua tangan di dada bagian atas.
·         Keluarkan napas dari mulut (tiup) dengan tangan menekan dada ke arah dalam.
·         Tarik napas dari mulut dengan mulut terbuka, dada mengembang mendorong ke dua tangan ke atas.
Fungsi: Mengurangi rasa sakit saat bersalin.
4)      Pernapasan Panting (Pendek-Pendek dan Cepat)
Pernapasan ini menyerupai pernapasan dada, hanya saja irama pernapasan lebih cepat dengan gerakan napas dihentikan separuhnya (bernapas tidak terlalu dalam, pendek-pendek saja).
Fungsi: Istirahat atau menghilangkan lelah sesudah mengejan. Juga dilakukan saat ibu sudah merasa ingin mengejan sementara pembukaan belum lengkap, supaya jalan lahir tidak bengkak atau sobek.

Semua gerakan latihan pernapasan di atas sebaiknya dilakukan enam kali sehari, di pagi hari sesudah bangun tidur dan malam hari sebelum tidur.

c.       Latihan Otot Panggul
1)      Tidur terlentang, kedua lutut dibengkokkan.
2)      Letakkan kedua tangan di samping badan. Tundukkan kepala dan kerutkan pantat ke dalam hingga terangkat dari kasur.
3)      Kempeskan perut hingga punggung menekan kasur. Rasakan tonjolan tulang panggul bergerak ke belakang.
4)      Lemaskan kembali dan rasakan tonjolan tulang bergerak kembali ke depan. Ulangi gerakan ini 15-30 kali sehari.
Fungsi: Mengembalikan posisi panggul yang berat ke depan, mengurangi dan mencegah pegal-pegal, sakit pinggang dan punggung serta nyeri di lipat paha.

d.      Latihan Otot Betis
1)      Berdiri sambil berpegangan pada benda yang berat dan mantap.
2)      Posisikan ibu jari dan jari-jari lain menghadap ke atas.
3)      Regangkan kaki sedikit dengan badan lurus dan pandangan lurus ke depan.
4)      Tundukkan kepala seraya berjongkok perlahan sampai ke bawah tanpa mengangkat tumit dari lantai.
5)      Setelah jongkok, lemaskan bahu. Kempeskan perut, kemudian perlahan kembalilah berdiri tegak, lepaskan kerutan. Lakukan enam kali dalam sehari.
Fungsi: Mencegah kejang di betis.

e.      Latihan Otot Pantat
1)      Tidur terlentang tanpa bantal, kedua lutut dibengkokkan dan agak diregangkan.
2)      Dekatkan tumit ke pantat dengan kedua tangan di samping badan.
3)      Kerutkan pantat ke dalam sehingga lepas dari kasur, angkat panggul ke atas sejauh mungkin.
4)      Turunkan perlahan (pantat masih berkerut), lepaskan kerutan, dsb. Ulangi enam kali sehari.
Fungsi: Mencegah timbulnya wasir saat mengejan.

f.        Latihan Anti Sunsang
1)      Ambil posisi merangkak, kedua lengan sejajar bahu, kedua lutut sejajar panggul dan agak diregangkan.
2)      Kepala di antara kedua tangan, tolehkan ke kiri atau ke kanan.
3)      Letakkan siku di atas kasur, geser siku sejauh mungkin ke kiri dan ke kanan hingga dada menyentuh kasur. Lakukan sehari 2 kali selama 15-20 menit/kali.
Fungsi: Mempertahankan dan memperbaiki posisi janin agar bagian kepala tetap di bawah.


Gambar Beberapa Gerakan Senam Hamil

C.      KEBUTUHAN ISTIRAHAT (TIDUR)
Istirahat dan tidur yang sesuai adalah sama pentingnya bagi kesehatan yang baik, dengan nutrisi yang baik dan olah raga yang cukup. Tiap individu membutuhkan jumlah yang berbeda untuk istirahat dan tidur. Kesehatan fisik dan emosi tergantung pada kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia. Tanpa jumlah istirahat dan tidur yang cukup, kemampuan untuk berkonsentrasi membuat keputusan dan berpartisipasi dalam aktivitas harian akan menurun dan meningkatkan iritabilitas (Potter, dkk, 2005).
Tidur merupakan salah satu cara untuk melepaskan kelelahan jasmani dan kelelahan mental. Dengan tidur semua keluhan hilang atau berkurang dan akan kembali mendapatkan tenaga serta semangat untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Tidur yang cukup dapat memainkan peranan dalam membantu tubuh kita untuk pulih dari penyakit atau luka. Penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur mengakibatkan kehilangan kekuatan, kerusakan pada sistem kekebalan dan meningkatkan tekanan darah (Nancy W, 2006).
Tidur merupakan suatu keadaan tidak sadar yang dialami oleh seseorang, yang dapat dibandingkan kembali dengan indra atau rangsangan yang cukup (Robert Priharjo, 1993).
Memperoleh kualitas tidur yang terbaik adalah penting untuk peningkatan kesehatan yang baik dan pemulihan individu yang sakit. Perawat memperhatikan klien yang seringkali mengalami gangguan tidur yang ada sebelumnya dan klien yang mengalami masalah tidur karena penyakit atau hospitalisasi. Kadang-kadang mencari pelayanan kesehatan karena mereka mempunyai masalah tidur yang mungkin telah hilang untuk disadari beberapa tahun. Klien yang sakit seringkali membutuhkan lebih banyak tidur dan istirahat daripada klien yang sehat sifat alamiah dari penyakit mencegah klien untuk mendapatkan istirahat dan tidur yang cukup lingkungan institusi Rumah sakit atau fasilitas peralatan jangka panjang aktivitas petugas pelayanan kesehatan dapat menyebabkan sulit tidur (Potter, dkk 2005).
Secara umum, sebagian besar orang dewasa yang sehat rata-rata memerlukan tujuh sampai sembilan jam tidur setiap malam, walaupun kebutuhan tidur setiap orang berbeda. Kebutuhan akan tidur tidak berkurang karena usia, walaupun kemampuan untuk mempertahankannya mungkin menurun (Nancy W, 2006).
Semua makhluk hidup mempunyai irama kehidupan yang sesuai dengan beredarnya waktu dalam siklus 24 jam. Irama yang seiring dengan rotasi bola dunia disebut sebagai irama sirkadian. Pusat control irama sirkadian terletak pada bagian ventral anterior hypothalamus. Bagian susunan saraf pusat yang mengadakan kegiatan sinkronisasi terletak pada substansia ventrikulo retikularis medulo oblogata yang disebut sebagai pusat tidur. Bagian susunan saraf pusat yang menghilangkan sinkronisasi/ desinkronisasi terdapat pada bagian rostral medulo oblogata disebut sebagai pusat penggugah atau aurosal state (Iskandar J, 2002).
Tidur juga penting bagi fungsi emosional dan mental. Kurang tidur dapat mempengaruhi konsentrasi dan merusak kemampuan untuk melakukan kegiatan yang melibatkan memori, belajar, pertimbangan logis, dan penghitungan matematis. Sebuah penelitian yang baru-baru ini dilaporkan dalam New York Times mengesankan bahwa kurang tidur yang kronis bisa semakin membuat proses penuaan terasa menyulitkan. Bagi Odha, ganggauan tidur dapat mengakibatkan kemerosotan mutu hidup. Misalnya, gangguan tidur dapat menyebabkan kelelahan pada siang hari dan mempengaruhi status fungsional dan mutu hidup (Nancy W, 2006).
Hampir semua orang pernah mengalami gangguan tidur selama masa kehidupannya. Diperkirakan tiap tahun 20%-40% orang dewasa mengalami kesukaran tidur dan 17% diantaranya mengalami masalah serius. Prevalensi gangguan tidur setiap tahun cenderung meningkat, hal ini juga sesuai dengan peningkatan usia dan berbagai penyebabnya. Kaplan dan Sadock melaporkan kurang lebih 40-50% dari populasi usia lanjut menderita gangguan tidur. Gangguan kronik (10-15%) disebabkan oleh gangguan psikiatri, ketergantungan obat dan alkohol (Iskandar J, 2002).
Menurut data International of Sleep Disorder, prevalensi penyebab-penyebab gangguan tidur adalah sebagai berikut: Penyakit asma (61-74%), gangguan pusat pernafasan (40-50%), kram kaki malam hari (16%), psychophysiological (15%), sindroma kaki gelisah (5-15%), ketergantungan alkohol (10%), sindroma terlambat tidur (5-10%), depresi (65%). Demensia (5%), gangguan perubahan jadwal kerja (2-5%), gangguan obstruksi sesak saluran nafas (1-2%), penyakit ulkus peptikus (<1%), narcolepsy (mendadak tidur) (0,03%-0,16%) (Iskandar J, 2002).

1.      Istirahat / Tidur
Wanita hamil harus mengurangi semua kegiatan yang melelahkan, tapi tidak boleh digunakan sebagai alasan untuk menghindari pekerjaan yang tidak disukainya. Wanita hamil juga harus menghindari posisi duduk, berdiri dalam waktu yang sangat lama. Ibu hamil harus mempertimbangkan pola istirahat dan tidur yang mendukung kesehatan sendiri, maupun kesehatan bayinya. Kebiasaan tidur larut malam dan kegiatan-kegiatan malam hari harus dipertimbangkan dan kalau mungkin dikurangi hingga seminimal mungkin. Tidur malam + sekitar 8 jam/ istirahat/ tidur siang ± 1 jam. Jadwal istirahat dan tidur perlu diperhatikan dengan baik, karena istirahat dan tidur yang teratur dapat meningkatkan kesehatan jasmani, dan rohani untuk kepentingan perkembangan dan pertumbuhan janin.

2.      Posisi Tidur Ibu Hamil
Posisi aman untuk ibu hamil sekitar 16 minggu sebaiknya ibu tidur dengan posisi miring ke sisi kiri karena posisi ini memberi keuntungan untuk janin untuk mendapatkan aliran darah dan nutrisi yang maksimal ke plasenta karena adanya vena cava inferior di bagian belakang sebelah kanan spina yang mengembalikan darah dari tubuh bagian bawah ke jantung. Juga dapat membantu ginjal untuk membuang sisa produk dan cairan dari tubuh ibu sehingga mengurangi pembengkakan (edema) di tangan, kaki dan pergelangan kaki.  Tips untuk tidur dengan posisi yang lebih nyaman letakkan bantal diantara dengkul dan satu di punggung atau memilih bantal tidur untuk ibu hamil.
Hal utama yang menyebabkan kesulitan tidur ibu hamil, hal ini terjadi karena peningkatan ukuran janin berubah, yang membuat ibu hamil sulit menentukan posisi tidur yang enak. Buat ibu yang terbiasa tidur terlentang atau tengkurap sebelum hamil, kehadiran janin tentu akan menyulitkan. Selain persoalan kenyamanan, ada cukup banyak pula penyebab lainnya. Beberapa diantaranya, ada yang bersumber dari factor fisik, dan psikologis.
Factor fisik, misalnya:
a.      Sering berkemih pada ibu hamil, ginjal bekerja lebih berat dari biasanya karena organ harus menyaring volume darah yang lebih banyak 30-50% dari sebelum hamil, proses penyaringan inilah yang menghasilkan lebih banyak urine. Selain itu, karena janin dan plasenta membesar maka tekanan kandung kemih juga meningkat keseringan berkemih juga akan bertambah.
b.      Peningkatan detak jantung, selama hamil kerja jantung juga meningkat, jantung akan memompa lebih banyak darah selain mengirim suplay ke rahim, darah juga akan didistribusikan ke seluruh tubuh.
c.       Pernafasan lebih pendek karena rahim membesar, maka kondisi ini menghasilkan tekanan pada rongga diafragma.
d.      Kram kaki dan nyeri punggung.

D.     KEBUTUHAN IMUNISASI
1.      Pengertian Imunisasi
Imunisasi berasal dari kata imun, yang berarti kebal atau resisten. Jadi Imunisasi adalah suatu tindakan untuk memberikan kekebalan dengan cara memasukkan vaksin ke dalam tubuh manusia. Sedangkan kebal adalah suatu keadaan dimana tubuh mempunyai daya kemampuan mengadakan pencegahan penyakit dalam rangka menghadapi serangan kuman tertentu. Kebal atau resisten terhadap suatu penyakit belum tentu kebal terhadap penyakit lain (Depkes RI, 1994).
Dalam ilmu kedokteran, imunitas adalah suatu peristiwa mekanisme pertahanan tubuh terhadap invasi benda asing hingga terjadi interaksi antara tubuh dengan benda asing tersebut. Adapun tujuan imunisasi adalah merangsang sistim imunologi tubuh untuk membentuk antibody spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) (Musa, 1985).
Departemen Kesehatan RI (2004), menyebutkan imunisasi adalah suatu usaha yang dilakukan dalam pemberian vaksin pada tubuh seseorang sehingga dapat menimbulkan kekebalan terhadap penyakit tertentu.

2.      Program Imunisasi
Di Indonesia, program imunisasi telah dimulai sejak abad ke 19 untuk membasmi penyakit cacar di Pulau Jawa. Kasus cacar terakhir di Indonesia ditemukan pada tahun 1972 dan pada tahun 1974 Indonesia secara resmi dinyatakan Negara bebas cacar. Tahun 1977 sampai dengan tahun 1980 mulai diperkenalkan imunisasi BCG, DPT dan TT secara berturut-turut untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit-penyakit TBC anak, difteri, pertusis dan tetanus neonatorum. Tahun 1981 dan 1982 berturut-turut mulai diperkenalkan antigen polio dan campak yang dimulai di 55 buah kecamatan dan dikenal sebagai kecamatan Pengembangan Program Imunisasi (PPI) (Depkes RI 2000).
Pada tahun 1984, cakupan imunisasi lengkap secara nasional baru mencapai 4%. Dengan strategi akselerasi, cakupan imunisasi dapat ditingkatkan menjadi 73% pada akhir tahun 1989. Strategi ini terutama ditujukan untuk memperkuat infrastruktur dan kemampuan manajemen program. Dengan bantuan donor internasional (antara lain WHO, UNICEF, USAID) program berupaya mendistribusikan seluruh kebutuhan vaksin dan peralatan rantai dinginnya serta melatih tenaga vaksinator dan pengelola rantai dingin. Pada akhir tahun 1989, sebanyak 96% dari semua kecamatan di tanah air memberikan pelayanan imunisasi dasar secara teratur (Abednego, 1997).
Dengan status program demikian, pemerintah bertekad untuk mencapai Universal Child Immunization (UCI) yaitu komitmen internasional dalam rangka Child Survival pada akhir tahun 1990. Dengan penerapan strategi mobilisasi social dan pengembangan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS), UCI ditingkat nasional dapat dicapai pada akhir tahun 1990. Akhirnya lebih dari 80% bayi di Indonesia mendapat imunisasi lengkap sebelum ulang tahunnya yang pertama (Depkes RI, 2000).

3.      Pentingnya Imunisasi dan Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi
Imunisasi merupakan salah satu cara yang efektif dan efisien dalam mencegah penyakit dan merupakan bagian kedokteran preventif yang mendapatkan prioritas. Sampai saat ini ada tujuh penyakit infeksi pada anak yang dapat menyebabkan kematian dan cacat, walaupun sebagian anak dapat bertahan dan menjadi kebal. Ketujuh penyakit tersebut dimasukkan pada program imunisasi yaitu penyakit tuberkulosis, difteri, pertusis, tetanus, polio, campak dan hepatitis-B.
Kehamilan bukan saat untuk memakai program imunisasi terhadap berbagai penyakit yang dapat dicegah. Hal ini karena kemungkinan adanya akibat yang membahayakan janin. Imunisasi harus diberikan pada wanita hamil hanya imunisasi TT untuk mencegah kemungkinan tetanus neonatorum. Imunisasi TT harus diberikan sebanyak 2 kali, dengan jarak waktu TT1 dan TT2 minimal 1bulan, dan ibu hamil harus sudah diimunisasi lengkap pada umur kehamilan 8 bulan. Vaksinasi dengan toksoid dianjurkan untuk dapat menurunkan angka kematian bayi Karena infeksi tetanus. Vaksinasi toksoid tetanus dilakukan dua kali selama hamil.
Imunisasi
Interval
Durasi Perlindungan
TT1
TT2
TT3
TT4
TT5
Selama kunjungan antenatal pertama
4 minggu setelah TT1
6 bulan setelah TT2
1 tahun setelah TT3
1 tahun setelah TT4
-
3 tahun
5 tahun
10 tahun
25 tahun (seumur hidup)

E.      KEBUTUHAN TRAVELING
Wanita hamil harus berhati-hati melakukan perjalanan yang cenderung lama dan melelahkan, karena dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan mengakibatkan gangguan sirkulasi serta Oedema tungkai karena kaki tergantung jika duduk terlalu lama. Sabuk pengaman yang dikenakan di kendaraan jangan sampai menekan perut yang menonjol. Jika mungkin perjalanan yang jauh sebaiknya dilakukan dengan pesawat udara. Ketinggian tidak mempengaruhi kehamilan, bila kehamilan telah 35 minggu ada perusahaan penerbangan yang menolak membawa wanita hamil ada juga yang menerima dengan catatan keterangan dokter yang menyatakan cukup sehat untuk bepergian. Berpergian dapat menimbulkan masalah lain, seperti konstipasi / diare karena asupan makanan dan minuman cenderung berbeda seperti biasanya karena akibat perjalanan yang melelahkan.
Traveling selama kehamilan:
1.      Trimester I merupakan waktu yang sangat sensitive karena rawan terjadi keguguran dan kehamilan di luar kandungan.
2.      Trimester II (14-28 minggu), merupakan waktu yang ideal untuk bepergian karena rasa mual, kelelahan sudah berkurang dan resiko terjadinya kelahiran premature masih cukup lama dapat terjadi namun tetap berhati-hati.
3.      Trimester III (29-40 minggu) resiko yang paling difikirkan dari bepergian adalah terjadinya kelahiran premature dan jika ingin tetap bepergian sebaiknya konsultasi dengan dokter kandungan.
Kendaraan yang dapat digunakan untuk traveling seperti mobil, kereta api, pesawat terbang. Bepergian dengan pesawat terbang saat hamil itu aman. Wanita dengan kehamilan tanpa komplikasi apapun dapat naik dengan pesawat terbang, namun hal itu akan meningkatkan resiko pembekuan pembuluh darah vena.
Kebanyakan ibu hamil, mengadakan perjalanan di trimester kedua bukan saja aman dan nyaman tetapi juga merupakan kesempatan terbaik untuk pergi bersama pasangan. Tentu saja memerlukan izin dokter, jika mempunyai tekanan darah tinggi, diabetes atau masalah medis dan kebidanan lainnya mungkin tidak akan diberi lampu hijau. Bahkan pada kehamilan beresiko rendah, perjalanan jarak jauh bukanlah ide yang baik pada trimester pertama ketika tubuh masih melakukan penyesuaian fisik dan emosional awal terhadap kehamilan. Begitu pula perjalanan jauh tidak dianjurkan pada trimester terakhir, untuk alasan yang jelas, jika mengalami persalinan dini, maka akan berada jauh dari dokter.
Sekali dokter telah mengizinkan, maka yang perlu dilakukan hanyalah membuat sedikit rencana dan beberapa tindakan pengamanan untuk menjamin perjalanan yang aman dan menyenangkan.
a.      Memilih Tujuan yang Sesuai
Perjalanan ke tempat yang panas dan lembab mungkin tidak menyamankan karena metabolisme sudah meningkat dan membuat tubuh lebih panas. Jika memiliki tujuan seperti ini, pastikan bahwa hotel dan alat pengangkutan memiliki pendingin (AC)  dan menjauh dari sinar matahari serta tetapi banyak minum.
b.      Rencanakan Perjalanan yang Santai
Sebuah tujuan tunggal mungkin lebih dipilih daripada tour besar atau perjalanan bisnis yang membawa ke enam kota dalam enam hari. Sebuah liburan dimana yang menentukan sendiri kecepatannya akan lebih baik daripada tour kelompok dimana pemandunyalah yang menetapkan kecepatan perjalanan.
c.       Asuransikan Diri
Dapatkan asuransi perjalanan untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan bahwa komplikasi kehamilan membuat anda harus mengganti rencana dan tinggal di rumah. Asuransi kesehatan perjalanan mungkin juga akan berguna jika asuransi rumah anda tidak melibatkan perawatan medis asing.
d.      Membawa Riwayat Kesehatan
Akan selalu bijaksana, terutama ketika hamil, untuk melakukan perjalanan dengan membawa riwayat medis yang mengandung informasi tentang golongan darah, obat yang sedang digunakan dan obat yang alergi dan semua data medis yang menetap bersamaan dengan nama, alamat, nomor telepon dokter. Simpan semua obat di dalam tas yang dibawa sendiri dan bawalah tambahan cadangan obat untuk setiap obat yang diresepkan oleh dokter di dalam dompet untuk menjaga kemungkinan jika tas hilang, sementara atau selamanya di perjalanan.
e.      Membawa Perlengkapan Pertolongan Pertama untuk Kehamilan
Pastikan bahwa anda membawa cukup vitamin untuk seluruh perjalanan, susu skim bubuk jika menurut perkiraan anda tidak bisa mendapatkan susu segar yang sudah dipasteurisasi (tetapi hanya mencampurkannya dengan air yang aman lihat bagian bawah), beberapa biskuit yang terbuat dari bijian utuh dan makanan kecil favorit lain yang tidak mudah rusak, plester jika peka terhadap mabuk perjalanan dan obat untuk sakit perut selama perjalanan yang telah disetujui oleh dokter, sepatu yang nyaman dan menyediakan cukup ruang untuk mengakomodasi pembengkakan kaki akibat berjalan atau bekerja terlalu lama.
f.        Siapkan Nama Dokter Spesialis Kebidanan Setempat
Dokter anda mungkin bisa memberikan nama dokter lokal. Jika tidak, hubungi perkumpulan dokter setempat.
g.      Membawa Catatan Diet Kehamilan
Mungkin anda sedang berlibur, tetapi bayi anda tetap bekerja keras untuk tumbuh dan berkembang dan tetap memiliki kebutuhan gizi yang sama.
h.      Jangan Minum Air Ledeng
Jangan minum air ledeng atau bahkan menyikat gigi dengannya kecuali yakin akan keamanannya. Jika di tempat tujuan kemurnian air ledengnya diragukan, rencanakan untuk menggunakan air botol untuk minum dan sikat gigi, atau bawa wadah perebus air atau pemanas yang dicelupkan ke dalam air untuk mendidihkan air ledeng.
i.        Jangan Berenang
Di beberapa area, danau dan lautnya sudah tercemar. Tanyakan keamanan air di tempat tujuan anda untuk memastikan keamanannya sebelum anda mencebur ke dalamnya. Juga berhati-hatilah dengan kolam renang yang tidak diklorinasi dengan benar.
j.        Makan dengan Hati-Hati
Di beberapa area, mungkin tidak aman untuk memakan sayur atau buah yang mentah dan tidak dikupas. Di semua area, hindari makanan matang yang sekedar hangat atau bersuhu ruangan, seperti daging, ikan dan unggas mentah atau  setengah matang, serta produk susu yang tidak dipasteurisasi atau tidak disimpan dalam lemari pendingin dan makanan yang dijual di pinggir jalan bahkan jika makanannya panas.
k.      Mencegah Ketidakaturan Buang Air Besar
Perubahan jadwal dan diet bisa memperparah masalah sembelit. Untuk menhindarinya, pastikan bahwa anda cukup mendapatkan ketiga pencegah sembelit: serat, cairan dan olahraga. Mungkin juga membantu jika anda makan sarapan sedikit lebih awal sehingga anda mempunyai waktu untuk duduk di kamar mandi sebelum anda harus berangkat pergi.
l.        Buang Air Kecil atau Besar Ketika Merasakan Dorongannya
Jangan memberi kesempatan pada infeksi saluran kemih atau sembelit dengan menunda perjalanan ke kamar mandi. Pergilah segera mungkin ketika merasakan dorongannya.
m.    Mendapatkan Dukungan yang Dibutuhkan
Yaitu dukungan dari stocking. Terutama jika anda sedang mengalami varises tetapi bahkan jika anda menduga bahwa anda peka terhadapnya kenakan stocking yang memberi sanggahan ketika anda akan banyak duduk. Misalnya di dalam mobil, pesawat atau kereta api.
n.      Tetap Bergerak
Duduk lama akan menghambat peredaran darah di tungkai, jadi pastikan bahwa anda sering bergerak di tempat duduk anda, meregangkan, menekuk, menggoyangkan dan memijat tungkai dan jangan menyilangkan kaki. Jika mungkin, lepaskan sepatu dan tinggikan kaki. Bangunlah sedikitnya satu atau dua jam sekali untuk berjalan di sepanjang gang, ketika anda berada di pesawat udara atau kereta api. Ketika mengadakan perjalanan dengan mobil jangan berjalan selama dua jam tanpa berhenti sebentar untuk berjalan dan meregang. Ketika duduk lakukan gerak badan sederhana.
o.      Jika Perjalanan dengan Pesawat Udara
Tanyakan terlebih dahulu apakah perusahaan memiliki peraturan untuk ibu hamil. Aturlah terlebih dahulu agar bisa duduk di bagian yang atapnya lebih tinggi atau jika tidak ada pemesanan tempat duduk, lakukanlah sebelum anda naik ke pesawat. Jangan melakukan penerbangan di kabin yang tekanan udaranya tidak disesuaikan ketika memesan tiket pesawat tanyakan apakah tersedia makanan yang menyediakan protein. Kenakan sabuk keselamatan dengan nyaman di bawah perut.
p.      Jika Perjalanan dengan Mobil
Untuk perjalanan panjang, pastikan tempat duduk nyaman. Jika tidak, pertimbangkan untuk membeli atau meminjam bantal khusus untuk menyangga punggung. Jika anda mengemudi, duduklah semundur mungkin dan angkat tangkai kemudi sejauh mungkin dari perut anda. Selalu kenakan sabuk keselamatan.
q.      Jika Perjalanan dengan Kereta Api
Periksa untuk memastikan bahwa ada gerbong makan dengan menu yang lengkap. Jika melakukan perjalanan malam, mintalah tempat duduk dimana anda bisa tidur. Bawalah makanan besar atau kecil yang memadai.

F.       KEBUTUHAN PERSIAPAN LAKTASI
ASI (Air Susu Ibu) merupakan cairan putih yang dihasilkan oleh kelenjar  payudara wanita melalui proses laktasi. ASI terdiri dari berbagai komponen gizi dan  non gizi. Komposisi ASI tidak sama selama periode menyusui, pada akhir menyusui  kadar lemak 4-5 kali dan kadar protein 1,5 kali lebih tinggi daripada awal menyusui.  Juga terjadi variasi dari hari ke hari selama periode laktasi. Keberhasilan laktasi  dipengaruhi oleh kondisi sebelum dan saat kehamilan. Kondisi sebelum  kehamilan  ditentukan oleh perkembangan payudara saat lahir dan saat pubertas. Pada saat  kehamilan yaitu trimester II payudara mengalami pembesaran karena pertumbuhan  dan difrensiasi dari lobuloalveolar dan sel epitel payudara. Pada saat pembesaran  payudara ini hormon prolaktin dan laktogen placenta aktif bekerja yang berperan  dalam produksi ASI.
Sekresi ASI diatur oleh hormon prolaktin dan oksitosin. Prolaktin  menghasilkan ASI dalam alveolar dan bekerjanya prolaktin ini dipengaruhi  oleh lama dan frekuensi pengisapan (suckling). Hormon oksitosin disekresi  oleh kelenjar pituitary sebagai respon adanya suckling yang akan  menstimulasi sel-sel mioepitel untuk mengeluarkan (ejection) ASI. Hal ini  dikenal dengan milk ejection reflex atau let down reflex.
ASI dari simpanan alveoli ke lacteal sinuses sehingga dapat dihisap bayi  melalui puting susu. Terdapat tiga bentuk ASI dengan karakteristik dan komposisi berbeda yaitu  kolostrum, ASI transisi, dan ASI matang (mature). Kolostrum adalah cairan yang  dihasilkan oleh kelenjar payudara setelah melahirkan (4-7 hari) yang berbeda  karakteristik fisik dan komposisinya dengan ASI matang dengan volume 150 – 300  ml/hari. ASI transisi adalah ASI yang dihasilkan setelah kolostrum (8-20 hari) dimana kadar lemak dan laktosa lebih tinggi dan kadar protein, mineral lebih rendah.
ASI matang adalah ASI yang dihasilkan  21 hari setelah melahirkan dengan  volume bervariasi yaitu 300 – 850 ml/hari tergantung pada besarnya stimulasi saat  laktasi. Volume ASI pada tahun pertama adalah 400 – 700 ml/24 jam, tahun kedua  200 – 400 ml/24 jam, dan sesudahnya 200 ml/24 jam. Dinegara industri rata-rata  volume ASI pada bayi dibawah usia 6 bulan adalah 750 gr/hari dengan kisaran 450 –  1200 gr/hari (ACC/SCN, 1991). Pada studi Nasution.A (2003) volume ASI bayi  usia 4 bulan adalah 500 – 800 gr/hari, bayi usia 5 bulan adalah 400 – 600 gr/hari,  dan bayi usia 6 bulan adalah 350 – 500 gr/hari.
Produksi ASI dapat meningkat atau menurun tergantung pada  stimulasi pada kelenjar payudara terutama pada minggu pertama laktasi.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi ASI
1.      Frekuensi Penyusuan 
Pada ibu dengan bayi prematur disimpulkan bahwa produksi ASI akan optimal dengan pemompaan ASI lebih dari 5 kali per hari selama  bulan pertama setelah melahirkan. Pemompaan dilakukan karena bayi  prematur belum dapat menyusu. Studi lain yang dilakukan pada ibu dengan bayi cukup bulan menunjukkan bahwa frekuensi penyusuan 10 ± 3 kali perhari selama 2  minggu pertama setelah melahirkan berhubungan dengan produksi ASI yang  cukup. Berdasarkan hal ini  direkomendasikan penyusuan paling sedikit 8 kali perhari pada periode awal  setelah melahirkan. Frekuensi penyusuan ini berkaitan dengan kemampuan  stimulasi hormon dalam kelenjar payudara.
2.      Berat Lahir
Mengamati hubungan berat lahir bayi dengan volume ASI.  Hal ini berkaitan dengan kekuatan untuk mengisap, frekuensi, dan lama penyusuan  dibanding bayi yang lebih besar. Berat bayi pada hari kedua dan usia 1 bulan sangat  erat berhubungan dengan kekuatan mengisap yang mengakibatkan perbedaan intik  yang besar dibanding bayi yang mendapat formula. Menemukan  hubungan positif berat lahir bayi dengan frekuensi dan lama menyusui selama 14 hari pertama setelah lahir. Bayi berat lahir rendah (BBLR) mempunyai kemampuan  mengisap ASI yang lebih rendah dibanding bayi yang berat lahir normal (> 2500 gr).  Kemampuan mengisap ASI yang lebih rendah ini meliputi frekuensi dan lama  penyusuan yang lebih rendah dibanding bayi berat lahir normal yang akan  mempengaruhi stimulasi hormon prolaktin dan oksitosin dalam memproduksi ASI.
3.      Umur Kehamilan saat Melahirkan
Umur kehamilan dan berat lahir mempengaruhi intik ASI. Hal ini disebabkan  bayi yang lahir prematur (umur kehamilan kurang dari 34 minggu) sangat lemah dan  tidak mampu mengisap secara efektif sehingga produksi ASI lebih rendah daripada  bayi yang lahir tidak prematur. Lemahnya kemampuan mengisap pada bayi prematur  dapat disebabkan berat badan yang rendah dan belum sempurnanya fungsi organ.
4.      Umur dan Paritas
Umur dan paritas tidak berhubungan atau kecil hubungannya dengan  produksi ASI yang diukur sebagai intik bayi terhadap ASI.Menemukan bahwa pada ibu menyusui usia remaja dengan  gizi baik, intik ASI mencukupi berdasarkan pengukuran pertumbuhan 22 bayi dari  25 bayi. Pada ibu yang melahirkan lebih dari satu kali, produksi ASI pada hari  keempat setelah melahirkan lebih tinggi dibanding ibu yang melahirkan pertama kali.
5.      Stres dan Penyakit Akut
Ibu yang cemas dan stres dapat mengganggu laktasi sehingga mempengaruhi  produksi ASI karena menghambat pengeluaran ASI. Pengeluaran ASI akan  berlangsung baik pada ibu yang merasa rileks dan nyaman. Studi lebih lanjut  diperlukan untuk mengkaji dampak dari berbagai tipe stres ibu khususnya  kecemasan dan tekanan darah terhadap produksi ASI. Penyakit infeksi baik yang kronik maupun akut yang mengganggu proses laktasi dapat mempengaruhi produksi ASI.
6.      Konsumsi Rokok
Merokok dapat mengurangi volume ASI karena akan mengganggu hormon  prolaktin dan oksitosin untuk produksi ASI. Merokok akan menstimulasi pelepasan  adrenalin dimana adrenalin akan menghambat pelepasan oksitosin. Studi  Lyon,(1983); Matheson, (1989) menunjukkan adanya hubungan antara merokok dan  penyapihan dini meskipun volume ASI tidak diukur secara langsung.

Ada dua cara untuk mengukur produksi ASI yaitu penimbangan berat badan  bayi sebelum dan setelah menyusui; dan pengosongan payudara. Kurva berat badan  bayi merupakan cara termudah untuk menentukan cukup tidaknya produksi ASI, meliputi protein, karbohidrat, dan lemak berasal  dari sintesis dalam kelenjar payudara dan transfer dari plasma ke ASI, sedangkan  vitamin dan mineral berasal dari transfer plasma ke ASI. Semua fenomena fisiologi  dan biokimia yang mempengaruhi komposisi plasma dapat juga mempengaruhi  komposisi ASI. Komposisi ASI dapat dimodifikasi oleh hormon yang  mempengaruhi sintesis dalam kelenjar payudara.
Aspek gizi ibu yang dapat berdampak terhadap komposisi ASI adalah intik  pangan aktual, cadangan gizi, dan gangguan dalam penggunaan zat gizi. Perubahan  status gizi ibu yang mengubah komposisi ASI dapat berdampak positif, netral, atau  negatif terhadap bayi yang disusui. Bila asupan gizi ibu berkurang tetapi kadar zat  gizi dalam ASI dan volume ASI tidak berubah maka zat gizi untuk sintesis ASI  diambil dari cadangan ibu atau jaringan ibu. Komposisi ASI tidak konstan dan  beberapa faktor fisiologi dan faktor non fisiologi berperan secara langsung dan tidak  langsung. Faktor fisiologi meliputi umur penyusuan, waktu penyusuan, status gizi  ibu, penyakit akut, dan pil kontrasepsi. Faktor non fisiologi meliputi aspek  lingkungan, konsumsi rokok dan alkohol (Matheson, 1989).